Selasa, 15 Juli 2014

Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya


Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya*
Memasuki usia 40 tahun, 15 tahun masa pernikahannya dengan Khadijah, Muhammad telah sukses  membangun membangun kehidupan pribadi dan bisnisnya. Dalam kehidupan social ia pun telah menjelma menjadi tokoh muda yang disegani, Ia mendapatkan reputasi dalam masyarakat Quraisy karena keahlian diplomatiknya dan mereka kerap meminta Muhammad untuk bertindak sebagai mediator. Akan tetapi ada kegundahan yang sebenarnya telah lama ia rasakan namun kini semakin memuncak. Ia menderita krisis setengah baya, namun dalam konteks yang sangat serius. Krisis kehidupan dan keimanan.
Ia seringkali merasa teriris hatinya ketika melihat kesenjangan social di sekelilingnya dimana ada sebuah masyarakat  bergelimang harta yang melenakan mereka dari keadaan sekitar. Abai dari teriakan orang miskin, Janda-janda yang hanya mengandalkan derma dan anak-anak yatim yang harus berjuang untuk bertahan hidup.
Hatinya semakin perih tatkala menyaksikan praktek keagamaan masyarakat Quraisy, yang entah mengapa Ia merasa itu bukanlah cara yang benar. Ada keganjilan dalam cara mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Kenyataan itu mendorong Muhammad terdorong untuk mencari tahu jawaban atas segala keganjilan itu, meskipun Ia sendiri tak mengerti bagaimana caranya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri pada waktu-waktu tertentu di dalam sebuah gua di Jabal Nur, berkontemplasi memuaskan kegelisahan hatinya dengan benar-benar menghayati keagungan alam di sekitarnya.
Memasuki tahun ke-3 masa perenungannya, Muhammad sering mengalami mimpi di mana dalam mimpinya Ia melihat cahaya fajar merekah di ufuk timur yang seolah tampak nyata. Bukan satu dua kali mimpi itu ia alami, tapi berulang-ulang sekitar 6 bulan. Hingga pada suatu malam yang gelap nan sunyi, Muhammad merasakan suatu kehadiran yang sangat besar dan menakutkan, seperti ada orang lain selain dirinya. Dan benar adanya, kini Muhammad mendapati dirinya dalam keterkejutan karena didekap dengan sangat erat dari belakang oleh sosok yang tidak dikenal. Dekapan itu membuatnya sulit bernafas, lalu terdengar suara yang tidak seperti datang dari luar tapi seakan datang dari dalam dirinya sendiri, menyuarakan perintah,”Bacalah!”. Dengan ketakutan dan bercucuran keringat Muhammad menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
“Bacalah” suara itu kembali terdengar.
Dan Muhammad tetap menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
Akhirnya, sosok misterius itupun memeluknya semakin erat sambil kembali berucap lantang,”Bacalah”
Setelah itu Muhammad merasa kata-kata agung yang membangkitkan keyakinan terbentuk di dalam hatinya dan pembacaan itu pun dimulai:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 
Setelah bacaan tersebut terpatri dalam diri Muhammad, sosok misterius yang kemudian diketahui sebagai Jibril AS itu pun pergi. Muhammad segera turun dari gua menuju ke rumah. Dengan tubuh gemetar Ia menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku,” Kata Muhammad kepada istrinya. Khadijah pun menyelimuti suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Apa yang terjadi padaku?”
Dengan lembut Khadijah menjawab,”Oh, putra pamanku. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membawakan beban orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang kesulitan.”
Mendengar kata-kata istrinya, Muhammad menjadi tenang dan akhirnya dapat tertidur dengan pulas.
Dengan turunnya wahyu tersebut, maka dimulailah dakwah Muhammad sebagai Rasulullah dan istrinya Khadijah adalah pengikut pertamanya. Dari sini semuanya bermula, mengawali sebuah ledakan besar yang merubah wajah peta sejarah dunia. Dari mulai Hijrah Nabi ke Madinah, diterbitkannya piagam Madinah sebagai cikal bakal konstitusi modern, perang Badr, Fathu Makkah,  dan sterusnya hingga akhirnya cahaya itu sampai kepada kita semua, umat Islam di seluruh dunia.

*Nur Kholis Masjid, disarikan dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar