Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya*
Memasuki usia 40 tahun, 15 tahun masa pernikahannya dengan
Khadijah, Muhammad telah sukses
membangun membangun kehidupan pribadi dan bisnisnya. Dalam kehidupan
social ia pun telah menjelma menjadi tokoh muda yang disegani, Ia mendapatkan
reputasi dalam masyarakat Quraisy karena keahlian diplomatiknya dan mereka
kerap meminta Muhammad untuk bertindak sebagai mediator. Akan tetapi ada
kegundahan yang sebenarnya telah lama ia rasakan namun kini semakin memuncak.
Ia menderita krisis setengah baya, namun dalam konteks yang sangat serius.
Krisis kehidupan dan keimanan.
Ia seringkali merasa teriris hatinya ketika melihat kesenjangan
social di sekelilingnya dimana ada sebuah masyarakat bergelimang harta yang melenakan mereka dari
keadaan sekitar. Abai dari teriakan orang miskin, Janda-janda yang hanya
mengandalkan derma dan anak-anak yatim yang harus berjuang untuk bertahan
hidup.
Hatinya semakin perih tatkala menyaksikan praktek keagamaan
masyarakat Quraisy, yang entah mengapa Ia merasa itu bukanlah cara yang benar.
Ada keganjilan dalam cara mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Kenyataan itu
mendorong Muhammad terdorong untuk mencari tahu jawaban atas segala keganjilan
itu, meskipun Ia sendiri tak mengerti bagaimana caranya. Sampai akhirnya ia
memutuskan untuk menyendiri pada waktu-waktu tertentu di dalam sebuah gua di
Jabal Nur, berkontemplasi memuaskan kegelisahan hatinya dengan benar-benar
menghayati keagungan alam di sekitarnya.
Memasuki tahun ke-3 masa perenungannya, Muhammad sering mengalami
mimpi di mana dalam mimpinya Ia melihat cahaya fajar merekah di ufuk timur yang
seolah tampak nyata. Bukan satu dua kali mimpi itu ia alami, tapi
berulang-ulang sekitar 6 bulan. Hingga pada suatu malam yang gelap nan sunyi,
Muhammad merasakan suatu kehadiran yang sangat besar dan menakutkan, seperti
ada orang lain selain dirinya. Dan benar adanya, kini Muhammad mendapati
dirinya dalam keterkejutan karena didekap dengan sangat erat dari belakang oleh
sosok yang tidak dikenal. Dekapan itu membuatnya sulit bernafas, lalu terdengar
suara yang tidak seperti datang dari luar tapi seakan datang dari dalam dirinya
sendiri, menyuarakan perintah,”Bacalah!”. Dengan ketakutan dan bercucuran
keringat Muhammad menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
“Bacalah” suara itu kembali terdengar.
Dan Muhammad tetap menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
Akhirnya, sosok misterius itupun memeluknya semakin erat sambil
kembali berucap lantang,”Bacalah”
Setelah itu Muhammad merasa kata-kata agung yang membangkitkan keyakinan
terbentuk di dalam hatinya dan pembacaan itu pun dimulai:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ
عَلَقٍ (2) اقْرَأ
وَرَبُّكَ
الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْ
Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3)
Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
Setelah bacaan tersebut terpatri dalam diri Muhammad, sosok
misterius yang kemudian diketahui sebagai Jibril AS itu pun pergi. Muhammad
segera turun dari gua menuju ke rumah. Dengan tubuh gemetar Ia menceritakan apa
yang baru saja dialaminya kepada Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku,” Kata Muhammad kepada istrinya.
Khadijah pun menyelimuti suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Apa yang terjadi padaku?”
Dengan lembut Khadijah menjawab,”Oh, putra pamanku. Demi Allah,
Allah tidak akan menghinakanmu selamanya karena engkau suka menyambung tali
persaudaraan, membawakan beban orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu
tamu, dan menolong orang yang kesulitan.”
Mendengar kata-kata istrinya, Muhammad menjadi tenang dan akhirnya
dapat tertidur dengan pulas.
Dengan turunnya wahyu tersebut, maka dimulailah dakwah Muhammad
sebagai Rasulullah dan istrinya Khadijah adalah pengikut pertamanya. Dari sini
semuanya bermula, mengawali sebuah ledakan besar yang merubah wajah peta
sejarah dunia. Dari mulai Hijrah Nabi ke Madinah, diterbitkannya piagam Madinah
sebagai cikal bakal konstitusi modern, perang Badr, Fathu Makkah, dan sterusnya hingga akhirnya cahaya itu
sampai kepada kita semua, umat Islam di seluruh dunia.
*Nur Kholis
Masjid, disarikan dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar