Air
Asumsi yang
mengatakan bahwa desa-desa di kaki gunung mudah mendapatkan air tidak
sepenuhnya benar. Karena faktanya ada beberapa wilayah di kaki gunung yang
sulit mendapatkan air, baik karena jauhnya sumber mata air, tekstur tanah,
maupun aktifitas warganya yang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Salah satu
wilayah di kaki gunung yang sulit mendapatkan air adalah kecamatan Pulosari
kabupaten Pemalang yang terletak di kaki gunung Slamet. Sebagian besar desa di
kecamatan ini sulit mendapatkan air, seperti desa Siremeng, Clekatakan,
Gunungsari, Pagenteran, dsb. Desa-desa tersebut hanya mudah mendapatkan air
ketika musim hujan dengan memanfaatkan air hujan yang ditampung ke dalam kolam
ataupun bak. Sedangkan di musim kemarau para warga harus membeli air yang
biasanya diambil dari desa Karangsari atau dari pemandian Moga.
Setidaknya
ada tiga factor yang menyebabkan
desa-desa tersebut sulit mendapatkan air sebagaimana yang sudah disebutkan di
atas. Yang pertama adalah factor jauhnya sumber mata air, seperti desa Siremeng
misalnya. Desa ini tidak memiliki mata air yang dekat dengan pemukiman warga.
Mata air hanya terdapat di ‘gunung’ Pesamoan, ‘gunung’ Siremeng dan perbukitan
lain yang letaknya jauh dari pemukiman. Untuk mendapatkan air warga harus
berjalan jauh naik turun bukit yang medannya hanya jalan setapak dan sangat
berbahaya. Upaya untuk mengalirkan air dari mata air ke pemukiman warga sangat
sulit untuk direalisasikan karena letak mata air itu kebanyakan lebih rendah
dari posisi desa dan harus melewati perbukitan. Air yang bisa dialirkan melalui
pipa dan sampai sekarang menjadi tumpuan warga adalah yang bersumber dari
gunung Pesamoan karena letaknya yang lebih tinggi dari posisi desa dan debit
airnya yang cukup besar.
Factor kedua
adalah tekstur tanah. Wilayah di kecamatan Pulosari sebagian besar adalah tanah
bebatuan. Oleh karena lapisan tanahnya didominasi oleh bebatuan maka sangat
sulit sekali untuk bisa mendapatkan sumber air dari dalam tanah. Membuat sumur
di sini hampir merupakan usaha yang mustahil. Di desa-desa selain Cikendung ,
Karangsari, dan desa lain yang memiliki mata air, belum pernah ada orang yang
berhasil membuat sumur yang bisa mengeluarkan air.
Factor
ketiga adalah kepedulian warga terhadap kelestarian alam. Meski jauh dari
sumber mata air, beberapa desa di kecamatan Pulosari puluhan tahun yang lalu
masih bisa mendapatkan air yang dialirkan dari mata air melalui pipa-pipa besi
baik di musim hujan maupun kemarau. Namun sekarang baru beberapa hari saja
kemarau tiba, air sudah tidak lagi mengalir sehingga warga harus membeli air yang
harganya semakin mahal jika kemarau semakin lama melanda. Penyebab dari tidak
mengalirnya air tersebut adalah karena berkurangnya debit air dari sumber mata
air. Debit air berkurang karena penebangan pohon yang membabi buta. Banyaknya
pohon yang ditebang menjadikan semakin sedikitnya volume air hujan yang bisa
ditampung oleh akar pepohonan yang menjadi sumber mata air. Akibatnya, mata air
menjadi kecil alirannya atau bahkan mati sama sekali sehingga warga tidak lagi
bisa menikmati air bersih dan terpaksa harus membeli air ketika kemarau tiba.
Air menjadi
kebutuhan pokok yang terus saja menjadi masalah utama bagi warga di kecamatan
Pulosari. Keberadaannya yang sedemikian penting menjadikannya sebagai komoditas
yang srategis baik dari sisi ekonomi, social maupun politik. Dari segi ekonomi,
air bersih menjadi dagangan yang menjanjikan yang harga perliternya bisa lebih
mahal dari minyak goreng. Maka tidak heran jika di musim kemarau banyak orang
yang beralih profesi menjadi penjual air. Di sisi lain, para petani, peternak
dan ibu rumah tangga semakin menjerit karena tidak mampu membeli air.
Dari segi
social, air juga mempengaruhi kehidupan social warga. Tidak jarang air menjadi
sumber berbagai permasalahan. Ketika kemarau tiba, maka akan terjadi antrean
panjang warga untuk mendapatkan air di ledeng-ledeng yang ada di hampir setiap
RT. Terkadang karena masalah antrean dan sedikit banyaknya air yang didapatkan
bisa terjadi pertengkaran dan perkelahian antar warga. Tidak meratanya
distribusi bantuan air bersih dari pemerintah juga semakin memperkeruh suasana.
Pemasangan jalur pipa baru yang dirasa oleh warga tidak adil dapat pula
mamantik kemarahan warga yang berujung menjadi permusuhan antar kelompok yang
tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan social warga.
Yang
terakhir adalah dari segi politik. Dalam dunia politik adalah sangat penting
mengetahui sesuatu apa yang paling dibutuhkan oleh konstituen. Dengan mengetahui
hal tersebut, dapat dikatakan seseorang telah berhasil mendapatkan kunci
kemenangannya. Dan isu strategis yang paling diminati warga di kecamatan
Pulosari adalah air. Maka siapa pun
orangnya, akan bisa mendapatkan hati warga jika yang ia janjikan adalah
air. Sudah tak terhitung berapa banyak politikus yang berhasil memenangkan hati
warga dan duduk di tampuk kekuasaan dengan bermodalkan janji mengaliri
desa-desa di kecamatan Pulosari dengan air bersih yang akan terus mengalir
meski kemarau melanda.
Bagi warga,
janji pembangunan pipa air yang mampu mengalirkan air bersih ke desa-desa
mereka adalah bagaikan musafir padang pasir yang seakan melihat oase di
kejauhan. Siapa pula yang tak tergoda dan diliputi rasa gembira? Maka meski
oase itu jauh, musafir itu tentu saja merasa lega karena sebentar lagi ia akan
merasakan segarnya air dan ia pun mantap melangkah menuju oase. Meski air belum
mengalir, warga tetap yakin bahwa sang politikus akan memenuhi janjinya. Warga
pun memilihnya. Ketika ia telah terpilih barulah warga menyadari bahwa air
tidak akan pernah bisa mengalir ke desa-desa mereka. Sebagaimana halnya musafir
yang setelah dekat, baru lah ia sadar bahwa oase yang ia lihat hanyalah
fatamorgana belaka.
Situasi ini
juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Pihak-pihak
ini memanfaatkan kebutuhan warga terhadap air untuk pengajuan proyek-proyek
yang berhubungan dengan air. Entah sudah berapa banyak proyek-proyek yang
mengatasnamakan pengadaan air bersih namun berakhir dengan ketidakjelasan.
Proyek yang sedianya bertujuan mulia dan memang dianggarkan oleh pemerintah,
namun hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Mereka yang terlibat
dalam proyek semakin sejahtera dan terus saja kebanjiran proyek demi proyek.
Sementara rakyat jelata hanya bisa menelan pil pahit kekecewaan tanpa bisa
menuntut apapun, dan jika pun ada, mereka pun bingung kepada siapa mereka harus menuntut.
Mungkin
walaupun 1001 kali warga di kecamatan Pulosari dikecewakan, mereka tetap
berharap bahwa suatu saat desa-desa mereka benar-benar dapat dialiri air yang
terus mengalir baik di musim hujan maupun kemarau. Faktanya, kini mereka
kembali percaya dengan janji sang ‘pemimpin’ yang menjanjikan air bagi mereka.
Entah kali ini janji itu akan ditepati dan harapan warga akan terpenuhi atau
tidak, hanya Tuhan dan mereka yang terlibat dalam proyek itu yang tahu. Dan
warga hanya bisa mengamini… Amin.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar