Rabu, 16 Juli 2014

Semua Kita Punya, Tapi...


Semua Kita Punya, Tapi...
Sebagaimana umumnya daerah di kaki gunung, Siremeng diberkahi dengan tanah yang subur. Hampir semua jenis tanaman pertanian bisa tumbuh di sini. Dari mulai jagung, umbi-umbian, lombok, aneka macam sayuran, buah-buahan, kopi, bahkan komoditas rempah-rempah yang menjadi primadona di Eropa, cengkih, pun tumbuh di sini. 

Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Selama ini kita langsung menjual hasil pertanian begitu saja tanpa terlalu banyak berfikir untung dan rugi. Akibatnya, bercocok tanam tak lebih dari rutinitas tahunan yang siklusnya terus berputar sesuai pakem. Padahal, andai saja kita sedikit mau bersabar, banyak nilai lebih yang bisa kita dapatkan dengan mengolah hasil pertanian tersebut terlebih dahulu sebelum dijual.

Coba bayangkan, berapa uang yang kita dapatkan dengan menjual singkong mentah? Bandingkan dengan harga 1 bungkus keripik singkong yang kita beli di toko, tentu sangat jauh. Dan jika dipikir lebih dalam, betapa (maaf) ‘bodoh’nya kita yang menjual singkong 1 karung untuk membeli keripik singkong beberapa bungkus saja?
Andai saja kita mau sedikit bersusah payah untuk mengolah singkong menjadi kripik, jagung menjadi marning, bihun atau emping, buah-buahan menjadi aneka jenis sirup dan kue, dan sebagainya, maka akan lebih banyak hasil yang kita dapatkan. Ini bukan hanya sekedar perhitungan untung dan rugi, tapi mendorong tumbuhnya industri kecil yang kreatif dan inovatif adalah upaya kecil yang dapat menjadikan Indonesia lebih berdikari.
Ingat! Sudah terlalu lama bangsa ini terkuras sumber dayanya tanpa bisa menikmati hasilnya. Kita menjual bijih besi, lalu kita membeli kembali dalam bentuk mobil, alat-alat elektronik dsb. Kita menjual minyak mentah, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk yang lebih mahal. Kita menjual kayu dan bahan makanan, kemudian kita membeli kembali dalam bentuk furniture dan makanan dalam kemasan. Bahkan kita pun menjual bangsa sendiri untuk menjadi tenaga kerja di negeri orang, mengolah hasil bumi dari Indonesia di luar negeri untuk dijual kembali ke Indonesia.
Lihat, kita menjual bahan baku, kita menjual tenaga, dan akhirnya kita sendiri yang membeli.
Untuk memperoleh hal yang besar, harus dimulai dari hal yang kecil. Dan itu bisa dimulai dari sini, dari Siremeng.


NurKholisMasjid4betterIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar