Semua Kita Punya, Tapi...
Sebagaimana umumnya daerah di kaki gunung, Siremeng
diberkahi dengan tanah yang subur. Hampir semua jenis tanaman pertanian bisa
tumbuh di sini. Dari mulai jagung, umbi-umbian, lombok, aneka macam sayuran,
buah-buahan, kopi, bahkan komoditas rempah-rempah yang menjadi primadona di
Eropa, cengkih, pun tumbuh di sini.
Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Coba bayangkan, berapa uang yang kita dapatkan dengan
menjual singkong mentah? Bandingkan dengan harga 1 bungkus keripik singkong
yang kita beli di toko, tentu sangat jauh. Dan jika dipikir lebih dalam, betapa
(maaf) ‘bodoh’nya kita yang menjual singkong 1 karung untuk membeli keripik
singkong beberapa bungkus saja?
Andai saja kita mau sedikit bersusah payah untuk mengolah
singkong menjadi kripik, jagung menjadi marning, bihun atau emping, buah-buahan
menjadi aneka jenis sirup dan kue, dan sebagainya, maka akan lebih banyak hasil
yang kita dapatkan. Ini bukan hanya sekedar perhitungan untung dan rugi, tapi
mendorong tumbuhnya industri kecil yang kreatif dan inovatif adalah upaya kecil
yang dapat menjadikan Indonesia lebih berdikari.
Ingat! Sudah terlalu lama bangsa ini terkuras sumber dayanya
tanpa bisa menikmati hasilnya. Kita menjual bijih besi, lalu kita membeli
kembali dalam bentuk mobil, alat-alat elektronik dsb. Kita menjual minyak
mentah, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk yang lebih mahal. Kita menjual
kayu dan bahan makanan, kemudian kita membeli kembali dalam bentuk furniture
dan makanan dalam kemasan. Bahkan kita pun menjual bangsa sendiri untuk menjadi
tenaga kerja di negeri orang, mengolah hasil bumi dari Indonesia di luar negeri
untuk dijual kembali ke Indonesia.
Lihat, kita menjual bahan baku, kita menjual tenaga, dan
akhirnya kita sendiri yang membeli.
Untuk memperoleh hal yang besar, harus dimulai dari hal yang
kecil. Dan itu bisa dimulai dari sini, dari Siremeng.
NurKholisMasjid4betterIndonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar