Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzzzzzz
Sudah hilang dari ingatan saya tentang
kapan desa ini memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Jalan yang
layak untuk disebut beraspal sebagai identitas desa yang sudah terjamah oleh
modernitas dan jembatan kuat nan bagus sebagai penopang mobilitas perekonomian
warga desa. Saya hanya sekilas ingat bahwa dulu ketika jalan desa ini sudah
rusak sana sini, maka datanglah rombongan Bupati yang dengan lantang
menjanjikan pengaspalan jalan kembali dan pembangunan jembatan rangka baja jika Ia
terpilih lagi. Dan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, masyarakat pun
langsung percaya dan bersedia memilih sang bupati kembali menjadi pemimpinnya.
Waktu
berselang setelah pelantikannya, tak ada tanda-tanda bahwa jalan dan jembatan
desa ini akan diperbaiki dan anehnya sampai purna jabatannya tak ada tanda-tanda
pula masyarakat menuntut janji sang Bupati. Tak jelas apakah mereka lupa,
dilupakan atau dipaksa untuk melupakan janji itu. Yang pasti jalan dan jembatan
ini tak diperbaiki dan cenderung semakin susah untuk dilewati.
Tahun demi tahun berlalu, Indonesia
memasuki babak baru, reformasi. Desa ini pun ikut merasakan hingar-bingar itu.
Reformasi memberi secercah harapan bahwa pemimpin yang terpilih nantinya dapat
memenuhi mimpi masyarakat memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus.
Bak semut bertemu gula, para calon pemimpin baru silih berganti datang ke desa
ini, menjajakan janji yang kurang lebih sama; mewujudkan mimpi masyarakat
memiliki jalan dan jembatan yang representatif. Dan untuk kesekian kalinya,
masyarakat kembali percaya. Di antara para calon pemimpin itu ada yang
terpilih, namun ternyata sejarah kembali terulang, mimpi itu pun tak kunjung
jua terwujud. Sebagaimana semut yang ketika telah mendapatkan gulanya maka ia
segera pergi menghilang entah kemana.
Sebenarnya pernah sesekali jalan desa ini
diperbaiki, namun hanya sekedar ditambal ala kadarnya. Atau bahkan ada juga
beberapa jalan setapak yang awalnya terjal bebatuan kemudian diaspal tipis
setipis sutera. Yah, kami menyebut itu semua sebagai aspal pelipur lara yang
hanya menahan luka kami atas segenap kekecewaan agar tidak terlalu menganga.
Tapi bagaimanapun juga namanya aspal pelipur lara, baru sepekan dua pekan
dibangun, aspal itupun akan terkelupas dan akhirnya hanyut terseret air dan wassalam.
Sepertinya kami memang hanya bisa bermimpi
bahwa suatu saat desa ini akan kembali memiliki jalan yang mulus dan jembatan
yang bagus. Atau setidaknya kami cukup berbangga bahwa pada suatu masa di zaman
dahulu kala, jalan desa ini pernah beraspal tebal nan mulus dan jembatannya pun
kokoh bertulang besi menyambung jalan di kedua sisi, meski hanya sebentar lalu
rusak termakan usia, terkikis alam. Namun mimpi itu tetap terjaga, mimpi yang
mungkin hanya ksatria piningit dalam dongeng atau kisah fiksi yang mampu
mewujudkannya. Wallahu A’lam…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar