Sabtu, 19 Juli 2014

Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme




Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme
Sudah lama saya tertarik dengan sosok Cheng Hoo, atau masyarakat Semarang lebih mengenalnya sebagai Sam Poo Kong. Ia adalah tokoh yang disebut-sebut menjadi cikal bakal etnis Tiong Hwa di tanah Jawa. Terlebih setelah Ramadan ini saya berkesempatan untuk i'tikaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo di Purbalingga. Selama ini, Cheng Hoo lebih dikenal sebagai salah satu Dewa dalam komunitas Konghucu yang sangat dikultuskan oleh mereka. Bahkan mereka membuatkan tempat ibadah khusus untuk menghormati Sang Sam Poo, yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan Semarang yang konon dulunya adalah masjid, dan ada hari khusus yang diperuntukkan untuk memperingati kedatangan Cheng Hoo di tanah Jawa.

Klenteng Sam Poo Kong
Sejarah mencatat bahwa Cheng Hoo adalah salah satu laksamana Kekaisaran China yang diperintahkan untuk memimpin ribuan kapal ekspedisi ke beberapa wilayah di dunia antara tahun 1405 hingga 1433 dalam misi perdamaian antara lain ke Jawa, Palembang, Malaka, Arab, India, dan konon hingga ke Amerika. Ia lahir dari keluarga Tiong Hwa muslim yang taat, sehingga Cheng Hoo pun tumbuh sebagai pribadi muslim yang sholeh. Karena prestasinya yang gemilang, Cheng Hoo akhirnya mendapat gelar laksamana dan diperintahkan untuk memimpin ekspedisi kapal yang disebut sebagai ekspedisi kapal terbesar sepanjang sejarah. Sejarawan muslim ternama, Ibnu Bathuthoh disebut-sebut pernah menumpang di salah satu kapal ekspedisi Cheng Hoo bahkan sampai ke Nusantara, tepatnya di kerajaan Sri Wijaya.
          Cheng Hoo memiliki peran yang besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, ia dianggap sebagai pioner penyebaran agama Islam dari etnis Tiong Hwa di pulau Jawa. Bedug yang ada di hampir setiap masjid di pulau Jawa adalah salah satu buktinya, karena sebelum kedatangan Cheng Hoo masyarakat Jawa tidak mengenal bedug. Bedug digunakan sebagai penanda datangnya waktu sholat agar penduduk yang jauh mampu mendengar panggilan itu, apalagi pada saat itu belum ada pengeras suara, tentu jika hanya dengan adzan saja maka tidak dapat terdengar oleh penduduk yang jauh.
          Kisah mengenai Cheng Hoo membangkitkan ingatan kita pada sikap toleransi yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Ia tetap menjaga akidahnya meski hidup di bawah kerajaan yang non Muslim, di sisi lain ia juga tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti agamanya meskipun sebagai seorang paglima ia bisa saja memaksa prajurit-prajuritnya untuk memeluk Islam.
          Sebagai Muslim, ia juga menyadari tugasnya untuk menyebarkan agama Islam. Dan ia melakukan itu, tapi dengan jalan damai, dengan prinsip alon-alon asal klakon. Sambil menjalankan misi ekspedisi yang diperintahkan kaisar China, Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam pada penduduk di mana  ia berlabuh dengan menyesuaikan budaya setempat. Cara dakwah ini pula yang kemudian dilakukan oleh Walisongo.
           Konsep la ikroha fi addin (tidak ada paksaan dalam agama) adalah konsep dasar dalam berdakwah, meski harus diawali dengan peperangan dan ekspansi. Dan mungkin saja Cheng Hoo memegang erat prinsip dasar tersebut. Prinsip yang juga dipegang oleh para pemimpin-pemimpin besar Islam. Sebut saja Sultan Mehmet dari Dinasti Turki Utsmani, ia berhasil merebut Konstantinopel yang disebut sebagai kota paling tak tertembus di dunia setelah pengepungan selama 54 hari dengan tetap membiarkan kota itu utuh, tanpa penghancuran dan penduduknya pun dibiarkan hidup dengan keyakinannya masing-masing. Gereja Katedral Ayya Shofia dijadikan masjid, tetapi ornamen-ornamen yang ada dibiarkan utuh sebagai bukti toleransi antar umat beragama.
            Salahuddin al-Ayyubi (Saladin) pada abad ke-11 M berhasil merebut kembali Yerussalem dari tangan penguasa Nasrani  dengan cara damai, tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua tahanan setelah membayar uang tebusan. 
              Umar Bin Khothob pada sekira abad ke-15 H sukses menaklukkan Yerussalem dengan tetap membiarkan penduduknya beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.
             Dan tentunya, Cheng Hoo juga meneladani Rasulullah yang pada 17 Ramadhan tahun ke 8 Hijrah dengan membawa rombongan sebanyak 10.000 muslim berhasil membuka blockade Quraisy atas Mekah atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah dengan tanpa perlawanan. Meskipun telah berhasil menduduki Mekah, tapi Rasululloh tetap memberi ampunan kepada orang-orang Quraisy dan dengan cara inilah Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai.
         Tapi, masih ada hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar; kenapa Cheng Hoo lebih dikenal sebagai tokoh kultus agama Konghucu dari pada seorang Muslim? Apakah sikap toleransinya yang justru semakin mengaburkan identitas Muslimnya?
           Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada kisah seorang Sultan kerajaan Islam Moghul di India, Akbar Yang Agung.
         Pada abad ke-15 M, Sultan Moghul, Akbar Yang Agung, memerintah. Ia adalah seorang penakluk besar akan tetapi sangat toleran. Ia memiliki prinsip yang disebutnya sulahkul, “toleransi universal”. Bahkan ia menikahi seorang putri Hindu. Meskipun terlahir sebagai Muslim, ia terbuka kepada seluruh pemuka agama lain dan sering mengundang mereka untuk diskusi. Dari hasil diskusi itu, ia menyimpulkan bahwa tidak ada agama yang memiliki kebenaran universal. Sehingga ia mengambil hal-hal terbaik dari masing-masing agama dan dirumuskan menjadi suatu agama baru yang dinamai Din-I Illahi, dan inilah cikal bakal agama Sikh yang hingga kini terus berkembang di India.
        Sikap toleransi yang dicontohkan oleh Rasululloh, Umar Ibn Khothob, Shalahuddin al-Ayyubi dan Sultan Mehmed adalah sikap toleransi yang dibenarkan oleh Islam, akan tetapi toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Akbar adalah sikap toleransi yang kebablasan. Saya tidak berani berspekulasi bahwa apa yang dilakukan Cheng Hoo adalah sikap toleransi yang kebablasan sebagaimana Sultan Akbar, akan tetapi hal tersebut cukup menggambarkan dan mengajarkan pada kita bahwa tasammuh, tepo seliro atau toleransi memang menjadi dasar dakwah namun harus diletakkan sesuai proporsinya dan tidak boleh kebablasan. Karena salah-salah justru akan terjadi sinkritisme agama yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai sebuah akulturasi budaya.
        ‘Ala kulli hal, Cheng Hoo adalah tokoh Muslim besar yang patut kita apresiasi dan menjadi contoh bahwa etnis tidak menghalangi seseorang untuk menyebarkan agama Islam. Dan Islam tidak dibatasi untuk satu etnis saja, tapi ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Ila hadroti Syeikh Muhammad Cheng Hoo, lahu al-Fatihah

NurKholisMasjid4BetterIndonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar