Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme
Sudah lama
saya tertarik dengan sosok Cheng Hoo, atau masyarakat Semarang lebih
mengenalnya sebagai Sam Poo Kong. Ia adalah tokoh yang disebut-sebut menjadi
cikal bakal etnis Tiong Hwa di tanah Jawa. Terlebih setelah Ramadan ini saya berkesempatan untuk i'tikaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo di Purbalingga. Selama ini, Cheng Hoo lebih dikenal
sebagai salah satu Dewa dalam komunitas Konghucu yang sangat dikultuskan oleh
mereka. Bahkan mereka membuatkan tempat ibadah khusus untuk menghormati Sang
Sam Poo, yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan Semarang yang konon dulunya
adalah masjid, dan ada hari khusus yang diperuntukkan untuk memperingati
kedatangan Cheng Hoo di tanah Jawa.
Klenteng Sam Poo Kong
Sejarah
mencatat bahwa Cheng Hoo adalah salah satu laksamana Kekaisaran China yang
diperintahkan untuk memimpin ribuan kapal ekspedisi ke beberapa wilayah di
dunia antara tahun 1405 hingga 1433 dalam misi perdamaian antara lain ke Jawa, Palembang, Malaka, Arab, India, dan
konon hingga ke Amerika. Ia lahir dari keluarga Tiong Hwa muslim yang taat,
sehingga Cheng Hoo pun tumbuh sebagai pribadi muslim yang sholeh. Karena
prestasinya yang gemilang, Cheng Hoo akhirnya mendapat gelar laksamana dan
diperintahkan untuk memimpin ekspedisi kapal yang disebut sebagai ekspedisi
kapal terbesar sepanjang sejarah. Sejarawan muslim ternama, Ibnu Bathuthoh
disebut-sebut pernah menumpang di salah satu kapal ekspedisi Cheng Hoo bahkan
sampai ke Nusantara, tepatnya di kerajaan Sri Wijaya.
Cheng Hoo
memiliki peran yang besar terhadap penyebaran Islam di
Nusantara, ia dianggap
sebagai pioner penyebaran agama Islam dari etnis Tiong Hwa di pulau Jawa. Bedug
yang ada di hampir setiap masjid di pulau Jawa adalah salah satu buktinya,
karena sebelum kedatangan Cheng Hoo masyarakat Jawa tidak mengenal bedug. Bedug
digunakan sebagai penanda datangnya waktu sholat agar penduduk yang jauh mampu
mendengar panggilan itu, apalagi pada saat itu belum ada pengeras suara, tentu
jika hanya dengan adzan saja maka tidak dapat terdengar oleh penduduk yang
jauh.
Kisah
mengenai Cheng Hoo membangkitkan ingatan kita pada sikap toleransi yang
seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Ia tetap menjaga akidahnya meski hidup
di bawah kerajaan yang non Muslim, di sisi lain ia juga tidak memaksakan orang
lain untuk mengikuti agamanya meskipun sebagai seorang paglima ia bisa saja
memaksa prajurit-prajuritnya untuk memeluk Islam.
Sebagai
Muslim, ia juga
menyadari tugasnya untuk menyebarkan agama Islam. Dan ia melakukan itu, tapi
dengan jalan damai, dengan prinsip alon-alon asal klakon. Sambil
menjalankan misi ekspedisi yang diperintahkan kaisar China, Cheng Hoo
juga menyebarkan agama Islam pada penduduk di mana ia berlabuh dengan menyesuaikan budaya
setempat. Cara dakwah ini pula yang kemudian dilakukan oleh Walisongo.
Konsep la
ikroha fi addin (tidak ada paksaan dalam agama) adalah konsep dasar dalam
berdakwah, meski harus diawali dengan peperangan dan ekspansi. Dan mungkin saja
Cheng Hoo memegang erat prinsip dasar tersebut. Prinsip yang juga dipegang oleh
para pemimpin-pemimpin besar Islam. Sebut saja Sultan Mehmet dari Dinasti Turki
Utsmani, ia berhasil merebut Konstantinopel yang disebut sebagai kota paling
tak tertembus di dunia setelah pengepungan selama 54 hari dengan tetap
membiarkan kota itu utuh, tanpa penghancuran dan penduduknya pun dibiarkan
hidup dengan keyakinannya masing-masing. Gereja Katedral Ayya Shofia dijadikan
masjid, tetapi ornamen-ornamen yang ada dibiarkan utuh sebagai bukti toleransi
antar umat beragama.
Salahuddin
al-Ayyubi (Saladin) pada abad ke-11 M berhasil merebut kembali Yerussalem dari
tangan penguasa Nasrani dengan cara
damai, tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua
tahanan setelah membayar uang tebusan.
Umar Bin
Khothob pada sekira abad ke-15 H sukses menaklukkan Yerussalem dengan tetap
membiarkan penduduknya beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.
Dan tentunya,
Cheng Hoo juga meneladani Rasulullah yang pada 17 Ramadhan tahun ke 8 Hijrah
dengan membawa rombongan sebanyak 10.000 muslim berhasil membuka blockade
Quraisy atas Mekah atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah
dengan tanpa perlawanan. Meskipun telah berhasil menduduki Mekah, tapi
Rasululloh tetap memberi ampunan kepada orang-orang Quraisy dan dengan cara
inilah Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai.
Tapi, masih
ada hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar; kenapa Cheng Hoo lebih
dikenal sebagai tokoh kultus agama Konghucu dari pada seorang Muslim? Apakah
sikap toleransinya yang justru semakin mengaburkan identitas Muslimnya?
Pertanyaan-pertanyaan
itu mengingatkan saya pada kisah seorang Sultan kerajaan Islam Moghul di India,
Akbar Yang Agung.
Pada abad
ke-15 M, Sultan Moghul, Akbar Yang Agung, memerintah. Ia adalah seorang
penakluk besar akan tetapi sangat toleran. Ia memiliki prinsip yang disebutnya sulahkul,
“toleransi universal”. Bahkan ia menikahi seorang putri Hindu. Meskipun
terlahir sebagai Muslim, ia terbuka kepada seluruh pemuka agama lain dan sering
mengundang mereka untuk diskusi. Dari hasil diskusi itu, ia menyimpulkan bahwa
tidak ada agama yang memiliki kebenaran universal. Sehingga ia mengambil
hal-hal terbaik dari masing-masing agama dan dirumuskan menjadi suatu agama
baru yang dinamai Din-I Illahi, dan inilah cikal bakal agama Sikh yang
hingga kini terus berkembang di India.
Sikap
toleransi yang dicontohkan oleh Rasululloh, Umar Ibn Khothob, Shalahuddin
al-Ayyubi dan Sultan Mehmed adalah sikap toleransi yang dibenarkan oleh Islam,
akan tetapi toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Akbar adalah sikap
toleransi yang kebablasan. Saya tidak berani berspekulasi bahwa apa yang
dilakukan Cheng Hoo adalah sikap toleransi yang kebablasan sebagaimana Sultan
Akbar, akan tetapi hal tersebut cukup menggambarkan dan mengajarkan pada kita
bahwa tasammuh, tepo seliro atau toleransi memang menjadi dasar dakwah
namun harus diletakkan sesuai proporsinya dan tidak boleh kebablasan. Karena
salah-salah justru akan terjadi sinkritisme agama yang awalnya hanya
dimaksudkan sebagai sebuah akulturasi budaya.
‘Ala kulli
hal,
Cheng Hoo adalah tokoh Muslim besar yang patut kita apresiasi dan menjadi
contoh bahwa etnis tidak menghalangi seseorang untuk menyebarkan agama Islam.
Dan Islam tidak dibatasi untuk satu etnis saja, tapi ia adalah rahmat bagi
seluruh alam. Ila hadroti Syeikh Muhammad Cheng Hoo, lahu al-Fatihah…
NurKholisMasjid4BetterIndonesia.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar