Sabtu, 12 April 2014

Menggugat Tuhan


Menggugat Tuhan
Dewasa ini, popularitas uang semakin menguat. Bahkan ia lebih sering diperbincangkan daripada kata Tuhan. Pesonanya membius semua lapisan masyarakat dari kasta sudra sampai Brahmana. Hampir tidak ada tempat di dunia ini yang tidak tersentuh oleh kekuatan uang. Boleh dikata uang adalah Tuhan barunya alam semesta.
Siapa yang berani mengatakan tidak butuh uang? Semua orang butuh uang, bahkan seorang sufi yang dahulu kala terkenal dengan kehidupannya yang zuhud menghindari dunia pun kini lebih akrab dengan uang dan bala tentaranya. Jika dahulu Tuhan ada dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas para sufi, maka kini uang sudah sedikit demi sedikit menyusup dalam geritan putaran tasbih mereka. Hingga suatu hari hanya tersisa satu butir saja dari 99 butiran tasbih yang melekat kata Allah, selebihnya adalah uang.

Tabuh bedug dan moncong corong pada setiap menara Masjid dan surau yang dahulu mengumandangkan suara adzan, memanggil hamba-hamba yang tulus ikhlas menuju rumah Allah untuk mendirikan sholat, kini tidak lebih hanya memekikkan kata uang, lafal Allahu Akbar berganti dengan Uanghu Akbar. Pekikkan itu segera terdengar oleh jiwa-jiwa yang menghamba pada uang, membawa mereka segera melangkah menuju Rumah Allah yang kini menjadi Kasino. Mereka berkenan datang ke Masjid bukan karena Allah, tapi karena penguasa menjanjikan mereka uang, mobil atau jalan-jalan ke Mekah-Madinah.

Haji sebagai pungkasan rangkaian Rukun Islam adalah panggilan Tuhan yang semestinya merefleksikan kedalaman iman seorang hamba. Namun kini Haji hanyalah sebatas tren, bukti bahwa seseorang berada pada lingkaran kasta tertinggi. Haji adalah gaya hidup sosialita, kaum borjuis, pejabat, artis dan eksekutif muda. Jangan harap bisa dianggap kaya dan sukses jika di depan namanya belum bertengger titel haji. Bahkan kini haji menjadi tujuan wisata untuk belanja dan berfoya-foya selain ke Singapura atau Eropa. Bukan Allah yang menjadi tujuan mereka berhaji, tapi mereka datang atas panggilan uang, demi pengakuan bahwa mereka adalah kaum berduit, sang penguasa uang. Padahal sejatinya mereka lah yang dikuasai oleh uang.

Semboyan demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagai salah satu Negara dengan system demokrasi terbaik, Indonesia berusaha mengaplikasikan demokrasi dalam setiap jengkal tanah dan sisi kehidupan rakyatnya. Agar demokrasi benar-benar terwujud maka pemilihan wakil rakyat pun diadakan secara demokratis dengan pemilihan langsung. Rakyat dibebaskan untuk memilih siapa pun menjadi wakilnya di parlemen. Namun apa yang terjadi, Rakyat diajarkan untuk memilih bukan dengan hati tapi dengan uang. Mereka yang terpilih adalah yang berani memberi uang lebih banyak dari calon lainnya, sehingga yang menjadi wakil rakyat adalah uang. Slogan yang berlaku bukan lagi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, tapi dari uang, oleh uang dan untuk uang. Dan pada akhirnya, Negara ini dikuasai oleh uang.

Calon wakil rakyat yang hanya bermodal do’a tidak mampu lagi bersaing dengan yang bermodalkan uang. Entah berapa kali mereka berusaha tetap yakin bahwa Tuhan masih ada dan tidak menutup mata, mereka berdo’a dan terus berdo’a berharap masih ada orang yang berkenan memilihnya tanpa iming-iming uang, namun tetap saja kenyataan membuat mereka patah arang karena kini semua orang membutuhkan uang, bukan do’a. Pada akhirnya mereka bertanya-tanya dimana Tuhan saat ini? Kenapa Ia tak lagi mampu mengabulkan do’a hamba-Nya? Apakah justru Uang lah Tuhan yang sebenarnya, karena uang mampu mengabulkan segala keinginan?

Awalnya pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan itu hanya sebatas bisikan atau gumaman, tapi lama-kelamaan menjadi virus yang mewabah seantero dunia. Manusia menggugat Tuhannya, menggugat eksistensi-Nya, menggugat kemampuan-Nya mengabulkan segala do’a. Gugatan demi gugatan yang tak disambut oleh jawaban-jawaban Tuhan. Ia hanya terdiam dalam singgasana-Nya, mengamati makhluk-Nya yang sedikit demi sedikit pergi meninggalkan-Nya. Beranjak menjauh untuk menyembah Tuhan baru mereka, Uang yang maha esa. Na'udzubillah.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
                       رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

#NurKholisMasjid4BetterIndonesia

Organisasi Pro Dilema


Organisasi Pro Dilema
Organisator atau Akademisi?
To live is to choose. Karena kita dilahirkan maka kita harus berani memilih jika ingin bertahan hidup. Menjadi mahasiswa adalah salah satu pilihan yang sebagian dari kita pilih selepas lulus dari sekolah menengah atas. Namun bukan berarti setelah jadi mahasiswa kita tidak dihadapkan pada pilihan, justru di sinilah kedewasaan kita dipertaruhkan untuk memilih mana yang terbaik.

Di satu sisi Mahasiswa dituntut untuk menjadi akademisi, maka berprestasi dalam bidang akademik adalah harga mati. Namun di sisi lain, ia juga  pribadi yang butuh wadah untuk pengembangan diri di luar bidang akademik, maka salah satu pilihannya adalah bergabung dalam organisasi.

Jika pilihan sudah jatuh untuk bergabung dengan sebuah organisasi (misalnya BEM, ROHIS, ORDA dll), maka berbagai pertanyaan dilematis pun akan muncul, misalnya; Apa sih gunanya saya bergabung dengan organisasi?, Bisakah saya tetap berprestasi akademik jika aktif disini? Emang saya bisa makan dari sini? Jawabannya pun tergantung pada pilihan kita; Menjadi sekedar Akademisi, organisator saja atau organisator yang akademis.

Berpolitik atau Berorganisasi?
Biasanya organisasi selalu diidentikkan dengan politik, bahkan banyak sekali mereka yang berkecimpung dalam dunia organisasi tetapi tidak berorganisasi, mereka hanya asyik berpolitik.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam berpolitik tidak ada kawan maupun lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Tapi dalam berorganisasi, semuanya adalah kawan. Bahkan mereka yang dianggap lawan pada hakikatnya bukanlah lawan, tapi kompetitor yang sangat besar sumbangsihnya terhadap perkembangan sebuah organisasi.

Segala Cara yang Halal atau Menghalalkan Segala Cara?
Setiap orang yang benar-benar menghargai karunia hidup, pasti ia memiliki tujuan. Dan untuk mencapai tujuan itu, berbagai cara pun dilakukan. Ada cara yang baik, dan ada cara yang tidak baik.  Organisator sejati, ia akan menanggung resiko apapun asalkan tujuannya dapat tercapai dengan segala cara yang halal. Sebaliknya, mereka yang menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuan adalah oknum dalam organisasi yang tidak siap dengan resiko dan tidak patut untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Apa Pesan Allah dan Rasulullah?
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali Imron [103]:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
" Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai".
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah dlm berbuat baik dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda:
ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته
                                                                                                                                                “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya …”.

Selamat berorganisasi, dan selamat belajar menghargai proses.

#NurKholisMasjid