Senin, 21 Juli 2014

Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzZZzzZ




Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzzzzzz


Sudah hilang dari ingatan saya tentang kapan desa ini memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Jalan yang layak untuk disebut beraspal sebagai identitas desa yang sudah terjamah oleh modernitas dan jembatan kuat nan bagus sebagai penopang mobilitas perekonomian warga desa. Saya hanya sekilas ingat bahwa dulu ketika jalan desa ini sudah rusak sana sini, maka datanglah rombongan Bupati yang dengan lantang menjanjikan pengaspalan jalan kembali  dan pembangunan jembatan rangka baja jika Ia terpilih lagi. Dan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, masyarakat pun langsung percaya dan bersedia memilih sang bupati kembali menjadi pemimpinnya.
 Waktu berselang setelah pelantikannya, tak ada tanda-tanda bahwa jalan dan jembatan desa ini akan diperbaiki dan anehnya sampai purna jabatannya tak ada tanda-tanda pula masyarakat menuntut janji sang Bupati. Tak jelas apakah mereka lupa, dilupakan atau dipaksa untuk melupakan janji itu. Yang pasti jalan dan jembatan ini tak diperbaiki dan cenderung semakin susah untuk dilewati.

Tahun demi tahun berlalu, Indonesia memasuki babak baru, reformasi. Desa ini pun ikut merasakan hingar-bingar itu. Reformasi memberi secercah harapan bahwa pemimpin yang terpilih nantinya dapat memenuhi mimpi masyarakat memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Bak semut bertemu gula, para calon pemimpin baru silih berganti datang ke desa ini, menjajakan janji yang kurang lebih sama; mewujudkan mimpi masyarakat memiliki jalan dan jembatan yang representatif. Dan untuk kesekian kalinya, masyarakat kembali percaya. Di antara para calon pemimpin itu ada yang terpilih, namun ternyata sejarah kembali terulang, mimpi itu pun tak kunjung jua terwujud. Sebagaimana semut yang ketika telah mendapatkan gulanya maka ia segera pergi menghilang entah kemana.
Sebenarnya pernah sesekali jalan desa ini diperbaiki, namun hanya sekedar ditambal ala kadarnya. Atau bahkan ada juga beberapa jalan setapak yang awalnya terjal bebatuan kemudian diaspal tipis setipis sutera. Yah, kami menyebut itu semua sebagai aspal pelipur lara yang hanya menahan luka kami atas segenap kekecewaan agar tidak terlalu menganga. Tapi bagaimanapun juga namanya aspal pelipur lara, baru sepekan dua pekan dibangun, aspal itupun akan terkelupas dan akhirnya hanyut terseret air dan wassalam.
Sepertinya kami memang hanya bisa bermimpi bahwa suatu saat desa ini akan kembali memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Atau setidaknya kami cukup berbangga bahwa pada suatu masa di zaman dahulu kala, jalan desa ini pernah beraspal tebal nan mulus dan jembatannya pun kokoh bertulang besi menyambung jalan di kedua sisi, meski hanya sebentar lalu rusak termakan usia, terkikis alam. Namun mimpi itu tetap terjaga, mimpi yang mungkin hanya ksatria piningit dalam dongeng atau kisah fiksi yang mampu mewujudkannya. Wallahu A’lam…

Sabtu, 19 Juli 2014

Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme




Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme
Sudah lama saya tertarik dengan sosok Cheng Hoo, atau masyarakat Semarang lebih mengenalnya sebagai Sam Poo Kong. Ia adalah tokoh yang disebut-sebut menjadi cikal bakal etnis Tiong Hwa di tanah Jawa. Terlebih setelah Ramadan ini saya berkesempatan untuk i'tikaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo di Purbalingga. Selama ini, Cheng Hoo lebih dikenal sebagai salah satu Dewa dalam komunitas Konghucu yang sangat dikultuskan oleh mereka. Bahkan mereka membuatkan tempat ibadah khusus untuk menghormati Sang Sam Poo, yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan Semarang yang konon dulunya adalah masjid, dan ada hari khusus yang diperuntukkan untuk memperingati kedatangan Cheng Hoo di tanah Jawa.

Klenteng Sam Poo Kong
Sejarah mencatat bahwa Cheng Hoo adalah salah satu laksamana Kekaisaran China yang diperintahkan untuk memimpin ribuan kapal ekspedisi ke beberapa wilayah di dunia antara tahun 1405 hingga 1433 dalam misi perdamaian antara lain ke Jawa, Palembang, Malaka, Arab, India, dan konon hingga ke Amerika. Ia lahir dari keluarga Tiong Hwa muslim yang taat, sehingga Cheng Hoo pun tumbuh sebagai pribadi muslim yang sholeh. Karena prestasinya yang gemilang, Cheng Hoo akhirnya mendapat gelar laksamana dan diperintahkan untuk memimpin ekspedisi kapal yang disebut sebagai ekspedisi kapal terbesar sepanjang sejarah. Sejarawan muslim ternama, Ibnu Bathuthoh disebut-sebut pernah menumpang di salah satu kapal ekspedisi Cheng Hoo bahkan sampai ke Nusantara, tepatnya di kerajaan Sri Wijaya.
          Cheng Hoo memiliki peran yang besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, ia dianggap sebagai pioner penyebaran agama Islam dari etnis Tiong Hwa di pulau Jawa. Bedug yang ada di hampir setiap masjid di pulau Jawa adalah salah satu buktinya, karena sebelum kedatangan Cheng Hoo masyarakat Jawa tidak mengenal bedug. Bedug digunakan sebagai penanda datangnya waktu sholat agar penduduk yang jauh mampu mendengar panggilan itu, apalagi pada saat itu belum ada pengeras suara, tentu jika hanya dengan adzan saja maka tidak dapat terdengar oleh penduduk yang jauh.
          Kisah mengenai Cheng Hoo membangkitkan ingatan kita pada sikap toleransi yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Ia tetap menjaga akidahnya meski hidup di bawah kerajaan yang non Muslim, di sisi lain ia juga tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti agamanya meskipun sebagai seorang paglima ia bisa saja memaksa prajurit-prajuritnya untuk memeluk Islam.
          Sebagai Muslim, ia juga menyadari tugasnya untuk menyebarkan agama Islam. Dan ia melakukan itu, tapi dengan jalan damai, dengan prinsip alon-alon asal klakon. Sambil menjalankan misi ekspedisi yang diperintahkan kaisar China, Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam pada penduduk di mana  ia berlabuh dengan menyesuaikan budaya setempat. Cara dakwah ini pula yang kemudian dilakukan oleh Walisongo.
           Konsep la ikroha fi addin (tidak ada paksaan dalam agama) adalah konsep dasar dalam berdakwah, meski harus diawali dengan peperangan dan ekspansi. Dan mungkin saja Cheng Hoo memegang erat prinsip dasar tersebut. Prinsip yang juga dipegang oleh para pemimpin-pemimpin besar Islam. Sebut saja Sultan Mehmet dari Dinasti Turki Utsmani, ia berhasil merebut Konstantinopel yang disebut sebagai kota paling tak tertembus di dunia setelah pengepungan selama 54 hari dengan tetap membiarkan kota itu utuh, tanpa penghancuran dan penduduknya pun dibiarkan hidup dengan keyakinannya masing-masing. Gereja Katedral Ayya Shofia dijadikan masjid, tetapi ornamen-ornamen yang ada dibiarkan utuh sebagai bukti toleransi antar umat beragama.
            Salahuddin al-Ayyubi (Saladin) pada abad ke-11 M berhasil merebut kembali Yerussalem dari tangan penguasa Nasrani  dengan cara damai, tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua tahanan setelah membayar uang tebusan. 
              Umar Bin Khothob pada sekira abad ke-15 H sukses menaklukkan Yerussalem dengan tetap membiarkan penduduknya beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.
             Dan tentunya, Cheng Hoo juga meneladani Rasulullah yang pada 17 Ramadhan tahun ke 8 Hijrah dengan membawa rombongan sebanyak 10.000 muslim berhasil membuka blockade Quraisy atas Mekah atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah dengan tanpa perlawanan. Meskipun telah berhasil menduduki Mekah, tapi Rasululloh tetap memberi ampunan kepada orang-orang Quraisy dan dengan cara inilah Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai.
         Tapi, masih ada hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar; kenapa Cheng Hoo lebih dikenal sebagai tokoh kultus agama Konghucu dari pada seorang Muslim? Apakah sikap toleransinya yang justru semakin mengaburkan identitas Muslimnya?
           Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada kisah seorang Sultan kerajaan Islam Moghul di India, Akbar Yang Agung.
         Pada abad ke-15 M, Sultan Moghul, Akbar Yang Agung, memerintah. Ia adalah seorang penakluk besar akan tetapi sangat toleran. Ia memiliki prinsip yang disebutnya sulahkul, “toleransi universal”. Bahkan ia menikahi seorang putri Hindu. Meskipun terlahir sebagai Muslim, ia terbuka kepada seluruh pemuka agama lain dan sering mengundang mereka untuk diskusi. Dari hasil diskusi itu, ia menyimpulkan bahwa tidak ada agama yang memiliki kebenaran universal. Sehingga ia mengambil hal-hal terbaik dari masing-masing agama dan dirumuskan menjadi suatu agama baru yang dinamai Din-I Illahi, dan inilah cikal bakal agama Sikh yang hingga kini terus berkembang di India.
        Sikap toleransi yang dicontohkan oleh Rasululloh, Umar Ibn Khothob, Shalahuddin al-Ayyubi dan Sultan Mehmed adalah sikap toleransi yang dibenarkan oleh Islam, akan tetapi toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Akbar adalah sikap toleransi yang kebablasan. Saya tidak berani berspekulasi bahwa apa yang dilakukan Cheng Hoo adalah sikap toleransi yang kebablasan sebagaimana Sultan Akbar, akan tetapi hal tersebut cukup menggambarkan dan mengajarkan pada kita bahwa tasammuh, tepo seliro atau toleransi memang menjadi dasar dakwah namun harus diletakkan sesuai proporsinya dan tidak boleh kebablasan. Karena salah-salah justru akan terjadi sinkritisme agama yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai sebuah akulturasi budaya.
        ‘Ala kulli hal, Cheng Hoo adalah tokoh Muslim besar yang patut kita apresiasi dan menjadi contoh bahwa etnis tidak menghalangi seseorang untuk menyebarkan agama Islam. Dan Islam tidak dibatasi untuk satu etnis saja, tapi ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Ila hadroti Syeikh Muhammad Cheng Hoo, lahu al-Fatihah

NurKholisMasjid4BetterIndonesia.

Rabu, 16 Juli 2014

Semua Kita Punya, Tapi...


Semua Kita Punya, Tapi...
Sebagaimana umumnya daerah di kaki gunung, Siremeng diberkahi dengan tanah yang subur. Hampir semua jenis tanaman pertanian bisa tumbuh di sini. Dari mulai jagung, umbi-umbian, lombok, aneka macam sayuran, buah-buahan, kopi, bahkan komoditas rempah-rempah yang menjadi primadona di Eropa, cengkih, pun tumbuh di sini. 

Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Selama ini kita langsung menjual hasil pertanian begitu saja tanpa terlalu banyak berfikir untung dan rugi. Akibatnya, bercocok tanam tak lebih dari rutinitas tahunan yang siklusnya terus berputar sesuai pakem. Padahal, andai saja kita sedikit mau bersabar, banyak nilai lebih yang bisa kita dapatkan dengan mengolah hasil pertanian tersebut terlebih dahulu sebelum dijual.

Coba bayangkan, berapa uang yang kita dapatkan dengan menjual singkong mentah? Bandingkan dengan harga 1 bungkus keripik singkong yang kita beli di toko, tentu sangat jauh. Dan jika dipikir lebih dalam, betapa (maaf) ‘bodoh’nya kita yang menjual singkong 1 karung untuk membeli keripik singkong beberapa bungkus saja?
Andai saja kita mau sedikit bersusah payah untuk mengolah singkong menjadi kripik, jagung menjadi marning, bihun atau emping, buah-buahan menjadi aneka jenis sirup dan kue, dan sebagainya, maka akan lebih banyak hasil yang kita dapatkan. Ini bukan hanya sekedar perhitungan untung dan rugi, tapi mendorong tumbuhnya industri kecil yang kreatif dan inovatif adalah upaya kecil yang dapat menjadikan Indonesia lebih berdikari.
Ingat! Sudah terlalu lama bangsa ini terkuras sumber dayanya tanpa bisa menikmati hasilnya. Kita menjual bijih besi, lalu kita membeli kembali dalam bentuk mobil, alat-alat elektronik dsb. Kita menjual minyak mentah, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk yang lebih mahal. Kita menjual kayu dan bahan makanan, kemudian kita membeli kembali dalam bentuk furniture dan makanan dalam kemasan. Bahkan kita pun menjual bangsa sendiri untuk menjadi tenaga kerja di negeri orang, mengolah hasil bumi dari Indonesia di luar negeri untuk dijual kembali ke Indonesia.
Lihat, kita menjual bahan baku, kita menjual tenaga, dan akhirnya kita sendiri yang membeli.
Untuk memperoleh hal yang besar, harus dimulai dari hal yang kecil. Dan itu bisa dimulai dari sini, dari Siremeng.


NurKholisMasjid4betterIndonesia

Selasa, 15 Juli 2014

Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya


Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya*
Memasuki usia 40 tahun, 15 tahun masa pernikahannya dengan Khadijah, Muhammad telah sukses  membangun membangun kehidupan pribadi dan bisnisnya. Dalam kehidupan social ia pun telah menjelma menjadi tokoh muda yang disegani, Ia mendapatkan reputasi dalam masyarakat Quraisy karena keahlian diplomatiknya dan mereka kerap meminta Muhammad untuk bertindak sebagai mediator. Akan tetapi ada kegundahan yang sebenarnya telah lama ia rasakan namun kini semakin memuncak. Ia menderita krisis setengah baya, namun dalam konteks yang sangat serius. Krisis kehidupan dan keimanan.
Ia seringkali merasa teriris hatinya ketika melihat kesenjangan social di sekelilingnya dimana ada sebuah masyarakat  bergelimang harta yang melenakan mereka dari keadaan sekitar. Abai dari teriakan orang miskin, Janda-janda yang hanya mengandalkan derma dan anak-anak yatim yang harus berjuang untuk bertahan hidup.
Hatinya semakin perih tatkala menyaksikan praktek keagamaan masyarakat Quraisy, yang entah mengapa Ia merasa itu bukanlah cara yang benar. Ada keganjilan dalam cara mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Kenyataan itu mendorong Muhammad terdorong untuk mencari tahu jawaban atas segala keganjilan itu, meskipun Ia sendiri tak mengerti bagaimana caranya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri pada waktu-waktu tertentu di dalam sebuah gua di Jabal Nur, berkontemplasi memuaskan kegelisahan hatinya dengan benar-benar menghayati keagungan alam di sekitarnya.
Memasuki tahun ke-3 masa perenungannya, Muhammad sering mengalami mimpi di mana dalam mimpinya Ia melihat cahaya fajar merekah di ufuk timur yang seolah tampak nyata. Bukan satu dua kali mimpi itu ia alami, tapi berulang-ulang sekitar 6 bulan. Hingga pada suatu malam yang gelap nan sunyi, Muhammad merasakan suatu kehadiran yang sangat besar dan menakutkan, seperti ada orang lain selain dirinya. Dan benar adanya, kini Muhammad mendapati dirinya dalam keterkejutan karena didekap dengan sangat erat dari belakang oleh sosok yang tidak dikenal. Dekapan itu membuatnya sulit bernafas, lalu terdengar suara yang tidak seperti datang dari luar tapi seakan datang dari dalam dirinya sendiri, menyuarakan perintah,”Bacalah!”. Dengan ketakutan dan bercucuran keringat Muhammad menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
“Bacalah” suara itu kembali terdengar.
Dan Muhammad tetap menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
Akhirnya, sosok misterius itupun memeluknya semakin erat sambil kembali berucap lantang,”Bacalah”
Setelah itu Muhammad merasa kata-kata agung yang membangkitkan keyakinan terbentuk di dalam hatinya dan pembacaan itu pun dimulai:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 
Setelah bacaan tersebut terpatri dalam diri Muhammad, sosok misterius yang kemudian diketahui sebagai Jibril AS itu pun pergi. Muhammad segera turun dari gua menuju ke rumah. Dengan tubuh gemetar Ia menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku,” Kata Muhammad kepada istrinya. Khadijah pun menyelimuti suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Apa yang terjadi padaku?”
Dengan lembut Khadijah menjawab,”Oh, putra pamanku. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membawakan beban orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang kesulitan.”
Mendengar kata-kata istrinya, Muhammad menjadi tenang dan akhirnya dapat tertidur dengan pulas.
Dengan turunnya wahyu tersebut, maka dimulailah dakwah Muhammad sebagai Rasulullah dan istrinya Khadijah adalah pengikut pertamanya. Dari sini semuanya bermula, mengawali sebuah ledakan besar yang merubah wajah peta sejarah dunia. Dari mulai Hijrah Nabi ke Madinah, diterbitkannya piagam Madinah sebagai cikal bakal konstitusi modern, perang Badr, Fathu Makkah,  dan sterusnya hingga akhirnya cahaya itu sampai kepada kita semua, umat Islam di seluruh dunia.

*Nur Kholis Masjid, disarikan dari berbagai sumber.