Sabtu, 09 Agustus 2014

Mudik: Sebuah Tradisi Bernilai Islami




Hari raya Idul Fitri adalah momen special yang ditunggu oleh jutaan umat Islam khususunya di Indonesia setelah selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri menjadi begitu spesial karena hari itu adalah saat di mana umat Islam merayakan kemenangan dari jihad akbar melawan hawa nafsu dan saat di mana umat Islam saling berjabat tangan untuk bermaaf-maafan.
Berjabat tangan ketika lebaran dengan saling mengucapkan permintaan maaf memiliki arti yang sangat penting bagi umat Islam Indonesia. Hal tersebut merupakan sunah yang diajarkan Rasul bahwa ketika dua orang saling berjabat tangan maka seketika itu juga dosanya diampuni oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam berusaha bagaimanapun caranya agar saat hari raya Idul Fitri bisa bertemu dengan sanak famili dan handai taulan untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Atas dasar keyakinan itu lah maka muncul budaya yang sekarang kita kenal dengan ‘mudik’. Mudik menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun bagi putera daerah yang karena berbagai macam tujuan harus tinggal jauh di tanah perantuan. Mudik melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya dan bahkan bukan hanya memakan waktu dan biaya tetapi juga korban nyawa.
Banyaknya penduduk desa yang berurbanisasi ke kota, transmigrasi ke luar pulau, atau menikah dengan orang luar daerah semakin menumbuh suburkan budaya mudik ini. Meski banyaknya resiko yang harus mereka hadapi tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk pulang ke kampung halaman. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan itu. Mereka ingin menjaga tradisi, melestarikan budaya silaturahmi dan tentunya memikul tanggungjawab sebagai seorang muslim agar senantiasa menjaga nilai-nilai Islam tetap kokoh di bumi nusantara.
Islam adalah agama yang telah berhasil melahirkan kebudayaan dan tradisi luhur yang mengangkat harkat martabat manusia. Tradisi dan budaya yang lahir dari Islam memiliki landasan akidah yang kuat yaitu dalam rangka menanamkan ketauhidan dalam dada setiap manusia. Faktanya nilai-nilai Islam meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang tanpa mereka sadari mengakar kuat dan akhirnya menjadi tradisi. Dan mudik adalah salah satu contohnya, di mana hal itu berlandaskan perintah Nabi untuk saling bersilaturahmi dan berjabat tangan ketika saling bertemu agar diampuni dosanya. Maka mau tidak mau mereka harus bertemu dengan keluarga dan lahirlah tradisi mudik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar