Organisasi Pro Dilema
Organisator atau Akademisi?
To live is to choose. Karena
kita dilahirkan maka kita harus berani memilih jika ingin bertahan hidup. Menjadi
mahasiswa adalah salah satu pilihan yang sebagian dari kita pilih selepas lulus
dari sekolah menengah atas. Namun bukan berarti setelah jadi mahasiswa kita
tidak dihadapkan pada pilihan, justru di sinilah kedewasaan kita dipertaruhkan
untuk memilih mana yang terbaik.
Di satu sisi Mahasiswa dituntut
untuk menjadi akademisi, maka berprestasi dalam bidang akademik adalah harga
mati. Namun di sisi lain, ia juga pribadi
yang butuh wadah untuk pengembangan diri di luar bidang akademik, maka salah
satu pilihannya adalah bergabung dalam organisasi.
Jika pilihan sudah jatuh untuk
bergabung dengan sebuah organisasi (misalnya BEM, ROHIS, ORDA dll), maka
berbagai pertanyaan dilematis pun akan muncul, misalnya; Apa sih gunanya saya
bergabung dengan organisasi?, Bisakah saya tetap berprestasi akademik jika
aktif disini? Emang saya bisa makan dari sini? Jawabannya pun tergantung pada
pilihan kita; Menjadi sekedar Akademisi, organisator saja atau organisator yang
akademis.
Berpolitik atau Berorganisasi?
Biasanya organisasi selalu
diidentikkan dengan politik, bahkan banyak sekali mereka yang berkecimpung
dalam dunia organisasi tetapi tidak berorganisasi, mereka hanya asyik
berpolitik.
Hal yang perlu diingat adalah
bahwa dalam berpolitik tidak ada kawan maupun lawan abadi, yang ada hanyalah
kepentingan pribadi. Tapi dalam berorganisasi, semuanya adalah kawan. Bahkan mereka
yang dianggap lawan pada hakikatnya bukanlah lawan, tapi kompetitor yang sangat
besar sumbangsihnya terhadap perkembangan sebuah organisasi.
Segala Cara yang Halal atau
Menghalalkan Segala Cara?
Setiap orang yang benar-benar
menghargai karunia hidup, pasti ia memiliki tujuan. Dan untuk mencapai tujuan
itu, berbagai cara pun dilakukan. Ada cara yang baik, dan ada cara yang tidak
baik. Organisator sejati, ia akan
menanggung resiko apapun asalkan tujuannya dapat tercapai dengan segala cara
yang halal. Sebaliknya, mereka yang menghalalkan segara cara untuk mencapai
tujuan adalah oknum dalam organisasi yang tidak siap dengan resiko dan tidak
patut untuk dijadikan sebagai pemimpin.
Apa Pesan Allah dan Rasulullah?
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali
Imron [103]:
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
" Dan berpegangteguhlah
kamu semuanya kepada (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai".
وَتَعَاوَنُواْ
عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah
dlm berbuat baik dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan”.
Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda:
ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته
“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin
dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya
…”.
#NurKholisMasjid

Oke
BalasHapus