Sabtu, 12 April 2014

Organisasi Pro Dilema


Organisasi Pro Dilema
Organisator atau Akademisi?
To live is to choose. Karena kita dilahirkan maka kita harus berani memilih jika ingin bertahan hidup. Menjadi mahasiswa adalah salah satu pilihan yang sebagian dari kita pilih selepas lulus dari sekolah menengah atas. Namun bukan berarti setelah jadi mahasiswa kita tidak dihadapkan pada pilihan, justru di sinilah kedewasaan kita dipertaruhkan untuk memilih mana yang terbaik.

Di satu sisi Mahasiswa dituntut untuk menjadi akademisi, maka berprestasi dalam bidang akademik adalah harga mati. Namun di sisi lain, ia juga  pribadi yang butuh wadah untuk pengembangan diri di luar bidang akademik, maka salah satu pilihannya adalah bergabung dalam organisasi.

Jika pilihan sudah jatuh untuk bergabung dengan sebuah organisasi (misalnya BEM, ROHIS, ORDA dll), maka berbagai pertanyaan dilematis pun akan muncul, misalnya; Apa sih gunanya saya bergabung dengan organisasi?, Bisakah saya tetap berprestasi akademik jika aktif disini? Emang saya bisa makan dari sini? Jawabannya pun tergantung pada pilihan kita; Menjadi sekedar Akademisi, organisator saja atau organisator yang akademis.

Berpolitik atau Berorganisasi?
Biasanya organisasi selalu diidentikkan dengan politik, bahkan banyak sekali mereka yang berkecimpung dalam dunia organisasi tetapi tidak berorganisasi, mereka hanya asyik berpolitik.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam berpolitik tidak ada kawan maupun lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Tapi dalam berorganisasi, semuanya adalah kawan. Bahkan mereka yang dianggap lawan pada hakikatnya bukanlah lawan, tapi kompetitor yang sangat besar sumbangsihnya terhadap perkembangan sebuah organisasi.

Segala Cara yang Halal atau Menghalalkan Segala Cara?
Setiap orang yang benar-benar menghargai karunia hidup, pasti ia memiliki tujuan. Dan untuk mencapai tujuan itu, berbagai cara pun dilakukan. Ada cara yang baik, dan ada cara yang tidak baik.  Organisator sejati, ia akan menanggung resiko apapun asalkan tujuannya dapat tercapai dengan segala cara yang halal. Sebaliknya, mereka yang menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuan adalah oknum dalam organisasi yang tidak siap dengan resiko dan tidak patut untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Apa Pesan Allah dan Rasulullah?
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali Imron [103]:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
" Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai".
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah dlm berbuat baik dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda:
ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته
                                                                                                                                                “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya …”.

Selamat berorganisasi, dan selamat belajar menghargai proses.

#NurKholisMasjid

1 komentar: