Menggugat Tuhan
Dewasa ini, popularitas uang semakin menguat. Bahkan ia
lebih sering diperbincangkan daripada kata Tuhan. Pesonanya membius semua
lapisan masyarakat dari kasta sudra sampai Brahmana. Hampir tidak ada tempat di
dunia ini yang tidak tersentuh oleh kekuatan uang. Boleh dikata uang adalah
Tuhan barunya alam semesta.
Siapa yang berani mengatakan tidak butuh uang? Semua orang
butuh uang, bahkan seorang sufi yang dahulu kala terkenal dengan kehidupannya
yang zuhud menghindari dunia pun kini lebih akrab dengan uang dan bala
tentaranya. Jika dahulu Tuhan ada dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas para
sufi, maka kini uang sudah sedikit demi sedikit menyusup dalam geritan putaran
tasbih mereka. Hingga suatu hari hanya tersisa satu butir saja dari 99 butiran
tasbih yang melekat kata Allah, selebihnya adalah uang.
Tabuh bedug dan moncong corong pada setiap menara Masjid dan
surau yang dahulu mengumandangkan suara adzan, memanggil hamba-hamba yang tulus
ikhlas menuju rumah Allah untuk mendirikan sholat, kini tidak lebih hanya
memekikkan kata uang, lafal Allahu Akbar berganti dengan Uanghu Akbar. Pekikkan
itu segera terdengar oleh jiwa-jiwa yang menghamba pada uang, membawa mereka
segera melangkah menuju Rumah Allah yang kini menjadi Kasino. Mereka berkenan datang
ke Masjid bukan karena Allah, tapi karena penguasa menjanjikan mereka uang,
mobil atau jalan-jalan ke Mekah-Madinah.
Haji sebagai pungkasan rangkaian Rukun Islam adalah
panggilan Tuhan yang semestinya merefleksikan kedalaman iman seorang hamba.
Namun kini Haji hanyalah sebatas tren, bukti bahwa seseorang berada pada
lingkaran kasta tertinggi. Haji adalah gaya hidup sosialita, kaum borjuis,
pejabat, artis dan eksekutif muda. Jangan harap bisa dianggap kaya dan sukses
jika di depan namanya belum bertengger titel haji. Bahkan kini haji menjadi tujuan
wisata untuk belanja dan berfoya-foya selain ke Singapura atau Eropa. Bukan
Allah yang menjadi tujuan mereka berhaji, tapi mereka datang atas panggilan
uang, demi pengakuan bahwa mereka adalah kaum berduit, sang penguasa uang.
Padahal sejatinya mereka lah yang dikuasai oleh uang.
Semboyan demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat. Sebagai salah satu Negara dengan system demokrasi terbaik, Indonesia
berusaha mengaplikasikan demokrasi dalam setiap jengkal tanah dan sisi
kehidupan rakyatnya. Agar demokrasi benar-benar terwujud maka pemilihan wakil
rakyat pun diadakan secara demokratis dengan pemilihan langsung. Rakyat dibebaskan
untuk memilih siapa pun menjadi wakilnya di parlemen. Namun apa yang terjadi,
Rakyat diajarkan untuk memilih bukan dengan hati tapi dengan uang. Mereka yang
terpilih adalah yang berani memberi uang lebih banyak dari calon lainnya,
sehingga yang menjadi wakil rakyat adalah uang. Slogan yang berlaku bukan lagi
dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, tapi dari uang, oleh uang dan untuk
uang. Dan pada akhirnya, Negara ini dikuasai oleh uang.
Calon wakil rakyat yang hanya bermodal do’a tidak mampu lagi
bersaing dengan yang bermodalkan uang. Entah berapa kali mereka berusaha tetap
yakin bahwa Tuhan masih ada dan tidak menutup mata, mereka berdo’a dan terus
berdo’a berharap masih ada orang yang berkenan memilihnya tanpa iming-iming
uang, namun tetap saja kenyataan membuat mereka patah arang karena kini semua
orang membutuhkan uang, bukan do’a. Pada akhirnya mereka bertanya-tanya dimana
Tuhan saat ini? Kenapa Ia tak lagi mampu mengabulkan do’a hamba-Nya? Apakah
justru Uang lah Tuhan yang sebenarnya, karena uang mampu mengabulkan segala
keinginan?
Awalnya pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan itu
hanya sebatas bisikan atau gumaman, tapi lama-kelamaan menjadi virus yang
mewabah seantero dunia. Manusia menggugat Tuhannya, menggugat eksistensi-Nya,
menggugat kemampuan-Nya mengabulkan segala do’a. Gugatan demi gugatan yang tak
disambut oleh jawaban-jawaban Tuhan. Ia hanya terdiam dalam singgasana-Nya,
mengamati makhluk-Nya yang sedikit demi sedikit pergi meninggalkan-Nya.
Beranjak menjauh untuk menyembah Tuhan baru mereka, Uang yang maha esa. Na'udzubillah.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا
آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
#NurKholisMasjid4BetterIndonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar