Sabtu, 09 Agustus 2014

Air





Air
Asumsi yang mengatakan bahwa desa-desa di kaki gunung mudah mendapatkan air tidak sepenuhnya benar. Karena faktanya ada beberapa wilayah di kaki gunung yang sulit mendapatkan air, baik karena jauhnya sumber mata air, tekstur tanah, maupun aktifitas warganya yang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Salah satu wilayah di kaki gunung yang sulit mendapatkan air adalah kecamatan Pulosari kabupaten Pemalang yang terletak di kaki gunung Slamet. Sebagian besar desa di kecamatan ini sulit mendapatkan air, seperti desa Siremeng, Clekatakan, Gunungsari, Pagenteran, dsb. Desa-desa tersebut hanya mudah mendapatkan air ketika musim hujan dengan memanfaatkan air hujan yang ditampung ke dalam kolam ataupun bak. Sedangkan di musim kemarau para warga harus membeli air yang biasanya diambil dari desa Karangsari atau dari pemandian Moga.
Setidaknya ada  tiga factor yang menyebabkan desa-desa tersebut sulit mendapatkan air sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Yang pertama adalah factor jauhnya sumber mata air, seperti desa Siremeng misalnya. Desa ini tidak memiliki mata air yang dekat dengan pemukiman warga. Mata air hanya terdapat di ‘gunung’ Pesamoan, ‘gunung’ Siremeng dan perbukitan lain yang letaknya jauh dari pemukiman. Untuk mendapatkan air warga harus berjalan jauh naik turun bukit yang medannya hanya jalan setapak dan sangat berbahaya. Upaya untuk mengalirkan air dari mata air ke pemukiman warga sangat sulit untuk direalisasikan karena letak mata air itu kebanyakan lebih rendah dari posisi desa dan harus melewati perbukitan. Air yang bisa dialirkan melalui pipa dan sampai sekarang menjadi tumpuan warga adalah yang bersumber dari gunung Pesamoan karena letaknya yang lebih tinggi dari posisi desa dan debit airnya yang cukup besar.

Factor kedua adalah tekstur tanah. Wilayah di kecamatan Pulosari sebagian besar adalah tanah bebatuan. Oleh karena lapisan tanahnya didominasi oleh bebatuan maka sangat sulit sekali untuk bisa mendapatkan sumber air dari dalam tanah. Membuat sumur di sini hampir merupakan usaha yang mustahil. Di desa-desa selain Cikendung , Karangsari, dan desa lain yang memiliki mata air, belum pernah ada orang yang berhasil membuat sumur yang bisa mengeluarkan air.
Factor ketiga adalah kepedulian warga terhadap kelestarian alam. Meski jauh dari sumber mata air, beberapa desa di kecamatan Pulosari puluhan tahun yang lalu masih bisa mendapatkan air yang dialirkan dari mata air melalui pipa-pipa besi baik di musim hujan maupun kemarau. Namun sekarang baru beberapa hari saja kemarau tiba, air sudah tidak lagi mengalir sehingga warga harus membeli air yang harganya semakin mahal jika kemarau semakin lama melanda. Penyebab dari tidak mengalirnya air tersebut adalah karena berkurangnya debit air dari sumber mata air. Debit air berkurang karena penebangan pohon yang membabi buta. Banyaknya pohon yang ditebang menjadikan semakin sedikitnya volume air hujan yang bisa ditampung oleh akar pepohonan yang menjadi sumber mata air. Akibatnya, mata air menjadi kecil alirannya atau bahkan mati sama sekali sehingga warga tidak lagi bisa menikmati air bersih dan terpaksa harus membeli air ketika kemarau tiba.
Air menjadi kebutuhan pokok yang terus saja menjadi masalah utama bagi warga di kecamatan Pulosari. Keberadaannya yang sedemikian penting menjadikannya sebagai komoditas yang srategis baik dari sisi ekonomi, social maupun politik. Dari segi ekonomi, air bersih menjadi dagangan yang menjanjikan yang harga perliternya bisa lebih mahal dari minyak goreng. Maka tidak heran jika di musim kemarau banyak orang yang beralih profesi menjadi penjual air. Di sisi lain, para petani, peternak dan ibu rumah tangga semakin menjerit karena tidak mampu membeli air.
Dari segi social, air juga mempengaruhi kehidupan social warga. Tidak jarang air menjadi sumber berbagai permasalahan. Ketika kemarau tiba, maka akan terjadi antrean panjang warga untuk mendapatkan air di ledeng-ledeng yang ada di hampir setiap RT. Terkadang karena masalah antrean dan sedikit banyaknya air yang didapatkan bisa terjadi pertengkaran dan perkelahian antar warga. Tidak meratanya distribusi bantuan air bersih dari pemerintah juga semakin memperkeruh suasana. Pemasangan jalur pipa baru yang dirasa oleh warga tidak adil dapat pula mamantik kemarahan warga yang berujung menjadi permusuhan antar kelompok yang tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan social warga.
Yang terakhir adalah dari segi politik. Dalam dunia politik adalah sangat penting mengetahui sesuatu apa yang paling dibutuhkan oleh konstituen. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat dikatakan seseorang telah berhasil mendapatkan kunci kemenangannya. Dan isu strategis yang paling diminati warga di kecamatan Pulosari adalah air. Maka siapa pun  orangnya, akan bisa mendapatkan hati warga jika yang ia janjikan adalah air. Sudah tak terhitung berapa banyak politikus yang berhasil memenangkan hati warga dan duduk di tampuk kekuasaan dengan bermodalkan janji mengaliri desa-desa di kecamatan Pulosari dengan air bersih yang akan terus mengalir meski kemarau melanda.
Bagi warga, janji pembangunan pipa air yang mampu mengalirkan air bersih ke desa-desa mereka adalah bagaikan musafir padang pasir yang seakan melihat oase di kejauhan. Siapa pula yang tak tergoda dan diliputi rasa gembira? Maka meski oase itu jauh, musafir itu tentu saja merasa lega karena sebentar lagi ia akan merasakan segarnya air dan ia pun mantap melangkah menuju oase. Meski air belum mengalir, warga tetap yakin bahwa sang politikus akan memenuhi janjinya. Warga pun memilihnya. Ketika ia telah terpilih barulah warga menyadari bahwa air tidak akan pernah bisa mengalir ke desa-desa mereka. Sebagaimana halnya musafir yang setelah dekat, baru lah ia sadar bahwa oase yang ia lihat hanyalah fatamorgana belaka.

Situasi ini juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Pihak-pihak ini memanfaatkan kebutuhan warga terhadap air untuk pengajuan proyek-proyek yang berhubungan dengan air. Entah sudah berapa banyak proyek-proyek yang mengatasnamakan pengadaan air bersih namun berakhir dengan ketidakjelasan. Proyek yang sedianya bertujuan mulia dan memang dianggarkan oleh pemerintah, namun hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Mereka yang terlibat dalam proyek semakin sejahtera dan terus saja kebanjiran proyek demi proyek. Sementara rakyat jelata hanya bisa menelan pil pahit kekecewaan tanpa bisa menuntut apapun, dan jika pun ada, mereka pun bingung  kepada siapa mereka harus menuntut.
Mungkin walaupun 1001 kali warga di kecamatan Pulosari dikecewakan, mereka tetap berharap bahwa suatu saat desa-desa mereka benar-benar dapat dialiri air yang terus mengalir baik di musim hujan maupun kemarau. Faktanya, kini mereka kembali percaya dengan janji sang ‘pemimpin’ yang menjanjikan air bagi mereka. Entah kali ini janji itu akan ditepati dan harapan warga akan terpenuhi atau tidak, hanya Tuhan dan mereka yang terlibat dalam proyek itu yang tahu. Dan warga hanya bisa mengamini… Amin.

Mudik: Sebuah Tradisi Bernilai Islami




Hari raya Idul Fitri adalah momen special yang ditunggu oleh jutaan umat Islam khususunya di Indonesia setelah selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri menjadi begitu spesial karena hari itu adalah saat di mana umat Islam merayakan kemenangan dari jihad akbar melawan hawa nafsu dan saat di mana umat Islam saling berjabat tangan untuk bermaaf-maafan.
Berjabat tangan ketika lebaran dengan saling mengucapkan permintaan maaf memiliki arti yang sangat penting bagi umat Islam Indonesia. Hal tersebut merupakan sunah yang diajarkan Rasul bahwa ketika dua orang saling berjabat tangan maka seketika itu juga dosanya diampuni oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam berusaha bagaimanapun caranya agar saat hari raya Idul Fitri bisa bertemu dengan sanak famili dan handai taulan untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Atas dasar keyakinan itu lah maka muncul budaya yang sekarang kita kenal dengan ‘mudik’. Mudik menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun bagi putera daerah yang karena berbagai macam tujuan harus tinggal jauh di tanah perantuan. Mudik melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya dan bahkan bukan hanya memakan waktu dan biaya tetapi juga korban nyawa.
Banyaknya penduduk desa yang berurbanisasi ke kota, transmigrasi ke luar pulau, atau menikah dengan orang luar daerah semakin menumbuh suburkan budaya mudik ini. Meski banyaknya resiko yang harus mereka hadapi tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk pulang ke kampung halaman. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan itu. Mereka ingin menjaga tradisi, melestarikan budaya silaturahmi dan tentunya memikul tanggungjawab sebagai seorang muslim agar senantiasa menjaga nilai-nilai Islam tetap kokoh di bumi nusantara.
Islam adalah agama yang telah berhasil melahirkan kebudayaan dan tradisi luhur yang mengangkat harkat martabat manusia. Tradisi dan budaya yang lahir dari Islam memiliki landasan akidah yang kuat yaitu dalam rangka menanamkan ketauhidan dalam dada setiap manusia. Faktanya nilai-nilai Islam meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang tanpa mereka sadari mengakar kuat dan akhirnya menjadi tradisi. Dan mudik adalah salah satu contohnya, di mana hal itu berlandaskan perintah Nabi untuk saling bersilaturahmi dan berjabat tangan ketika saling bertemu agar diampuni dosanya. Maka mau tidak mau mereka harus bertemu dengan keluarga dan lahirlah tradisi mudik.

Senin, 21 Juli 2014

Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzZZzzZ




Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzzzzzz


Sudah hilang dari ingatan saya tentang kapan desa ini memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Jalan yang layak untuk disebut beraspal sebagai identitas desa yang sudah terjamah oleh modernitas dan jembatan kuat nan bagus sebagai penopang mobilitas perekonomian warga desa. Saya hanya sekilas ingat bahwa dulu ketika jalan desa ini sudah rusak sana sini, maka datanglah rombongan Bupati yang dengan lantang menjanjikan pengaspalan jalan kembali  dan pembangunan jembatan rangka baja jika Ia terpilih lagi. Dan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, masyarakat pun langsung percaya dan bersedia memilih sang bupati kembali menjadi pemimpinnya.
 Waktu berselang setelah pelantikannya, tak ada tanda-tanda bahwa jalan dan jembatan desa ini akan diperbaiki dan anehnya sampai purna jabatannya tak ada tanda-tanda pula masyarakat menuntut janji sang Bupati. Tak jelas apakah mereka lupa, dilupakan atau dipaksa untuk melupakan janji itu. Yang pasti jalan dan jembatan ini tak diperbaiki dan cenderung semakin susah untuk dilewati.

Tahun demi tahun berlalu, Indonesia memasuki babak baru, reformasi. Desa ini pun ikut merasakan hingar-bingar itu. Reformasi memberi secercah harapan bahwa pemimpin yang terpilih nantinya dapat memenuhi mimpi masyarakat memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Bak semut bertemu gula, para calon pemimpin baru silih berganti datang ke desa ini, menjajakan janji yang kurang lebih sama; mewujudkan mimpi masyarakat memiliki jalan dan jembatan yang representatif. Dan untuk kesekian kalinya, masyarakat kembali percaya. Di antara para calon pemimpin itu ada yang terpilih, namun ternyata sejarah kembali terulang, mimpi itu pun tak kunjung jua terwujud. Sebagaimana semut yang ketika telah mendapatkan gulanya maka ia segera pergi menghilang entah kemana.
Sebenarnya pernah sesekali jalan desa ini diperbaiki, namun hanya sekedar ditambal ala kadarnya. Atau bahkan ada juga beberapa jalan setapak yang awalnya terjal bebatuan kemudian diaspal tipis setipis sutera. Yah, kami menyebut itu semua sebagai aspal pelipur lara yang hanya menahan luka kami atas segenap kekecewaan agar tidak terlalu menganga. Tapi bagaimanapun juga namanya aspal pelipur lara, baru sepekan dua pekan dibangun, aspal itupun akan terkelupas dan akhirnya hanyut terseret air dan wassalam.
Sepertinya kami memang hanya bisa bermimpi bahwa suatu saat desa ini akan kembali memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Atau setidaknya kami cukup berbangga bahwa pada suatu masa di zaman dahulu kala, jalan desa ini pernah beraspal tebal nan mulus dan jembatannya pun kokoh bertulang besi menyambung jalan di kedua sisi, meski hanya sebentar lalu rusak termakan usia, terkikis alam. Namun mimpi itu tetap terjaga, mimpi yang mungkin hanya ksatria piningit dalam dongeng atau kisah fiksi yang mampu mewujudkannya. Wallahu A’lam…

Sabtu, 19 Juli 2014

Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme




Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme
Sudah lama saya tertarik dengan sosok Cheng Hoo, atau masyarakat Semarang lebih mengenalnya sebagai Sam Poo Kong. Ia adalah tokoh yang disebut-sebut menjadi cikal bakal etnis Tiong Hwa di tanah Jawa. Terlebih setelah Ramadan ini saya berkesempatan untuk i'tikaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo di Purbalingga. Selama ini, Cheng Hoo lebih dikenal sebagai salah satu Dewa dalam komunitas Konghucu yang sangat dikultuskan oleh mereka. Bahkan mereka membuatkan tempat ibadah khusus untuk menghormati Sang Sam Poo, yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan Semarang yang konon dulunya adalah masjid, dan ada hari khusus yang diperuntukkan untuk memperingati kedatangan Cheng Hoo di tanah Jawa.

Klenteng Sam Poo Kong
Sejarah mencatat bahwa Cheng Hoo adalah salah satu laksamana Kekaisaran China yang diperintahkan untuk memimpin ribuan kapal ekspedisi ke beberapa wilayah di dunia antara tahun 1405 hingga 1433 dalam misi perdamaian antara lain ke Jawa, Palembang, Malaka, Arab, India, dan konon hingga ke Amerika. Ia lahir dari keluarga Tiong Hwa muslim yang taat, sehingga Cheng Hoo pun tumbuh sebagai pribadi muslim yang sholeh. Karena prestasinya yang gemilang, Cheng Hoo akhirnya mendapat gelar laksamana dan diperintahkan untuk memimpin ekspedisi kapal yang disebut sebagai ekspedisi kapal terbesar sepanjang sejarah. Sejarawan muslim ternama, Ibnu Bathuthoh disebut-sebut pernah menumpang di salah satu kapal ekspedisi Cheng Hoo bahkan sampai ke Nusantara, tepatnya di kerajaan Sri Wijaya.
          Cheng Hoo memiliki peran yang besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, ia dianggap sebagai pioner penyebaran agama Islam dari etnis Tiong Hwa di pulau Jawa. Bedug yang ada di hampir setiap masjid di pulau Jawa adalah salah satu buktinya, karena sebelum kedatangan Cheng Hoo masyarakat Jawa tidak mengenal bedug. Bedug digunakan sebagai penanda datangnya waktu sholat agar penduduk yang jauh mampu mendengar panggilan itu, apalagi pada saat itu belum ada pengeras suara, tentu jika hanya dengan adzan saja maka tidak dapat terdengar oleh penduduk yang jauh.
          Kisah mengenai Cheng Hoo membangkitkan ingatan kita pada sikap toleransi yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Ia tetap menjaga akidahnya meski hidup di bawah kerajaan yang non Muslim, di sisi lain ia juga tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti agamanya meskipun sebagai seorang paglima ia bisa saja memaksa prajurit-prajuritnya untuk memeluk Islam.
          Sebagai Muslim, ia juga menyadari tugasnya untuk menyebarkan agama Islam. Dan ia melakukan itu, tapi dengan jalan damai, dengan prinsip alon-alon asal klakon. Sambil menjalankan misi ekspedisi yang diperintahkan kaisar China, Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam pada penduduk di mana  ia berlabuh dengan menyesuaikan budaya setempat. Cara dakwah ini pula yang kemudian dilakukan oleh Walisongo.
           Konsep la ikroha fi addin (tidak ada paksaan dalam agama) adalah konsep dasar dalam berdakwah, meski harus diawali dengan peperangan dan ekspansi. Dan mungkin saja Cheng Hoo memegang erat prinsip dasar tersebut. Prinsip yang juga dipegang oleh para pemimpin-pemimpin besar Islam. Sebut saja Sultan Mehmet dari Dinasti Turki Utsmani, ia berhasil merebut Konstantinopel yang disebut sebagai kota paling tak tertembus di dunia setelah pengepungan selama 54 hari dengan tetap membiarkan kota itu utuh, tanpa penghancuran dan penduduknya pun dibiarkan hidup dengan keyakinannya masing-masing. Gereja Katedral Ayya Shofia dijadikan masjid, tetapi ornamen-ornamen yang ada dibiarkan utuh sebagai bukti toleransi antar umat beragama.
            Salahuddin al-Ayyubi (Saladin) pada abad ke-11 M berhasil merebut kembali Yerussalem dari tangan penguasa Nasrani  dengan cara damai, tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua tahanan setelah membayar uang tebusan. 
              Umar Bin Khothob pada sekira abad ke-15 H sukses menaklukkan Yerussalem dengan tetap membiarkan penduduknya beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.
             Dan tentunya, Cheng Hoo juga meneladani Rasulullah yang pada 17 Ramadhan tahun ke 8 Hijrah dengan membawa rombongan sebanyak 10.000 muslim berhasil membuka blockade Quraisy atas Mekah atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah dengan tanpa perlawanan. Meskipun telah berhasil menduduki Mekah, tapi Rasululloh tetap memberi ampunan kepada orang-orang Quraisy dan dengan cara inilah Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai.
         Tapi, masih ada hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar; kenapa Cheng Hoo lebih dikenal sebagai tokoh kultus agama Konghucu dari pada seorang Muslim? Apakah sikap toleransinya yang justru semakin mengaburkan identitas Muslimnya?
           Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada kisah seorang Sultan kerajaan Islam Moghul di India, Akbar Yang Agung.
         Pada abad ke-15 M, Sultan Moghul, Akbar Yang Agung, memerintah. Ia adalah seorang penakluk besar akan tetapi sangat toleran. Ia memiliki prinsip yang disebutnya sulahkul, “toleransi universal”. Bahkan ia menikahi seorang putri Hindu. Meskipun terlahir sebagai Muslim, ia terbuka kepada seluruh pemuka agama lain dan sering mengundang mereka untuk diskusi. Dari hasil diskusi itu, ia menyimpulkan bahwa tidak ada agama yang memiliki kebenaran universal. Sehingga ia mengambil hal-hal terbaik dari masing-masing agama dan dirumuskan menjadi suatu agama baru yang dinamai Din-I Illahi, dan inilah cikal bakal agama Sikh yang hingga kini terus berkembang di India.
        Sikap toleransi yang dicontohkan oleh Rasululloh, Umar Ibn Khothob, Shalahuddin al-Ayyubi dan Sultan Mehmed adalah sikap toleransi yang dibenarkan oleh Islam, akan tetapi toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Akbar adalah sikap toleransi yang kebablasan. Saya tidak berani berspekulasi bahwa apa yang dilakukan Cheng Hoo adalah sikap toleransi yang kebablasan sebagaimana Sultan Akbar, akan tetapi hal tersebut cukup menggambarkan dan mengajarkan pada kita bahwa tasammuh, tepo seliro atau toleransi memang menjadi dasar dakwah namun harus diletakkan sesuai proporsinya dan tidak boleh kebablasan. Karena salah-salah justru akan terjadi sinkritisme agama yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai sebuah akulturasi budaya.
        ‘Ala kulli hal, Cheng Hoo adalah tokoh Muslim besar yang patut kita apresiasi dan menjadi contoh bahwa etnis tidak menghalangi seseorang untuk menyebarkan agama Islam. Dan Islam tidak dibatasi untuk satu etnis saja, tapi ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Ila hadroti Syeikh Muhammad Cheng Hoo, lahu al-Fatihah

NurKholisMasjid4BetterIndonesia.

Rabu, 16 Juli 2014

Semua Kita Punya, Tapi...


Semua Kita Punya, Tapi...
Sebagaimana umumnya daerah di kaki gunung, Siremeng diberkahi dengan tanah yang subur. Hampir semua jenis tanaman pertanian bisa tumbuh di sini. Dari mulai jagung, umbi-umbian, lombok, aneka macam sayuran, buah-buahan, kopi, bahkan komoditas rempah-rempah yang menjadi primadona di Eropa, cengkih, pun tumbuh di sini. 

Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Selama ini kita langsung menjual hasil pertanian begitu saja tanpa terlalu banyak berfikir untung dan rugi. Akibatnya, bercocok tanam tak lebih dari rutinitas tahunan yang siklusnya terus berputar sesuai pakem. Padahal, andai saja kita sedikit mau bersabar, banyak nilai lebih yang bisa kita dapatkan dengan mengolah hasil pertanian tersebut terlebih dahulu sebelum dijual.

Coba bayangkan, berapa uang yang kita dapatkan dengan menjual singkong mentah? Bandingkan dengan harga 1 bungkus keripik singkong yang kita beli di toko, tentu sangat jauh. Dan jika dipikir lebih dalam, betapa (maaf) ‘bodoh’nya kita yang menjual singkong 1 karung untuk membeli keripik singkong beberapa bungkus saja?
Andai saja kita mau sedikit bersusah payah untuk mengolah singkong menjadi kripik, jagung menjadi marning, bihun atau emping, buah-buahan menjadi aneka jenis sirup dan kue, dan sebagainya, maka akan lebih banyak hasil yang kita dapatkan. Ini bukan hanya sekedar perhitungan untung dan rugi, tapi mendorong tumbuhnya industri kecil yang kreatif dan inovatif adalah upaya kecil yang dapat menjadikan Indonesia lebih berdikari.
Ingat! Sudah terlalu lama bangsa ini terkuras sumber dayanya tanpa bisa menikmati hasilnya. Kita menjual bijih besi, lalu kita membeli kembali dalam bentuk mobil, alat-alat elektronik dsb. Kita menjual minyak mentah, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk yang lebih mahal. Kita menjual kayu dan bahan makanan, kemudian kita membeli kembali dalam bentuk furniture dan makanan dalam kemasan. Bahkan kita pun menjual bangsa sendiri untuk menjadi tenaga kerja di negeri orang, mengolah hasil bumi dari Indonesia di luar negeri untuk dijual kembali ke Indonesia.
Lihat, kita menjual bahan baku, kita menjual tenaga, dan akhirnya kita sendiri yang membeli.
Untuk memperoleh hal yang besar, harus dimulai dari hal yang kecil. Dan itu bisa dimulai dari sini, dari Siremeng.


NurKholisMasjid4betterIndonesia