Senin, 21 Juli 2014

Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzZZzzZ




Jalan Mulus? Jembatan Bagus? Mimpi...zzzzzzz


Sudah hilang dari ingatan saya tentang kapan desa ini memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Jalan yang layak untuk disebut beraspal sebagai identitas desa yang sudah terjamah oleh modernitas dan jembatan kuat nan bagus sebagai penopang mobilitas perekonomian warga desa. Saya hanya sekilas ingat bahwa dulu ketika jalan desa ini sudah rusak sana sini, maka datanglah rombongan Bupati yang dengan lantang menjanjikan pengaspalan jalan kembali  dan pembangunan jembatan rangka baja jika Ia terpilih lagi. Dan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, masyarakat pun langsung percaya dan bersedia memilih sang bupati kembali menjadi pemimpinnya.
 Waktu berselang setelah pelantikannya, tak ada tanda-tanda bahwa jalan dan jembatan desa ini akan diperbaiki dan anehnya sampai purna jabatannya tak ada tanda-tanda pula masyarakat menuntut janji sang Bupati. Tak jelas apakah mereka lupa, dilupakan atau dipaksa untuk melupakan janji itu. Yang pasti jalan dan jembatan ini tak diperbaiki dan cenderung semakin susah untuk dilewati.

Tahun demi tahun berlalu, Indonesia memasuki babak baru, reformasi. Desa ini pun ikut merasakan hingar-bingar itu. Reformasi memberi secercah harapan bahwa pemimpin yang terpilih nantinya dapat memenuhi mimpi masyarakat memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Bak semut bertemu gula, para calon pemimpin baru silih berganti datang ke desa ini, menjajakan janji yang kurang lebih sama; mewujudkan mimpi masyarakat memiliki jalan dan jembatan yang representatif. Dan untuk kesekian kalinya, masyarakat kembali percaya. Di antara para calon pemimpin itu ada yang terpilih, namun ternyata sejarah kembali terulang, mimpi itu pun tak kunjung jua terwujud. Sebagaimana semut yang ketika telah mendapatkan gulanya maka ia segera pergi menghilang entah kemana.
Sebenarnya pernah sesekali jalan desa ini diperbaiki, namun hanya sekedar ditambal ala kadarnya. Atau bahkan ada juga beberapa jalan setapak yang awalnya terjal bebatuan kemudian diaspal tipis setipis sutera. Yah, kami menyebut itu semua sebagai aspal pelipur lara yang hanya menahan luka kami atas segenap kekecewaan agar tidak terlalu menganga. Tapi bagaimanapun juga namanya aspal pelipur lara, baru sepekan dua pekan dibangun, aspal itupun akan terkelupas dan akhirnya hanyut terseret air dan wassalam.
Sepertinya kami memang hanya bisa bermimpi bahwa suatu saat desa ini akan kembali memiliki jalan yang mulus dan jembatan yang bagus. Atau setidaknya kami cukup berbangga bahwa pada suatu masa di zaman dahulu kala, jalan desa ini pernah beraspal tebal nan mulus dan jembatannya pun kokoh bertulang besi menyambung jalan di kedua sisi, meski hanya sebentar lalu rusak termakan usia, terkikis alam. Namun mimpi itu tetap terjaga, mimpi yang mungkin hanya ksatria piningit dalam dongeng atau kisah fiksi yang mampu mewujudkannya. Wallahu A’lam…

Sabtu, 19 Juli 2014

Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme




Cheng Hoo; Antara Toleransi, Akulturasi dan Sinkritisme
Sudah lama saya tertarik dengan sosok Cheng Hoo, atau masyarakat Semarang lebih mengenalnya sebagai Sam Poo Kong. Ia adalah tokoh yang disebut-sebut menjadi cikal bakal etnis Tiong Hwa di tanah Jawa. Terlebih setelah Ramadan ini saya berkesempatan untuk i'tikaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo di Purbalingga. Selama ini, Cheng Hoo lebih dikenal sebagai salah satu Dewa dalam komunitas Konghucu yang sangat dikultuskan oleh mereka. Bahkan mereka membuatkan tempat ibadah khusus untuk menghormati Sang Sam Poo, yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan Semarang yang konon dulunya adalah masjid, dan ada hari khusus yang diperuntukkan untuk memperingati kedatangan Cheng Hoo di tanah Jawa.

Klenteng Sam Poo Kong
Sejarah mencatat bahwa Cheng Hoo adalah salah satu laksamana Kekaisaran China yang diperintahkan untuk memimpin ribuan kapal ekspedisi ke beberapa wilayah di dunia antara tahun 1405 hingga 1433 dalam misi perdamaian antara lain ke Jawa, Palembang, Malaka, Arab, India, dan konon hingga ke Amerika. Ia lahir dari keluarga Tiong Hwa muslim yang taat, sehingga Cheng Hoo pun tumbuh sebagai pribadi muslim yang sholeh. Karena prestasinya yang gemilang, Cheng Hoo akhirnya mendapat gelar laksamana dan diperintahkan untuk memimpin ekspedisi kapal yang disebut sebagai ekspedisi kapal terbesar sepanjang sejarah. Sejarawan muslim ternama, Ibnu Bathuthoh disebut-sebut pernah menumpang di salah satu kapal ekspedisi Cheng Hoo bahkan sampai ke Nusantara, tepatnya di kerajaan Sri Wijaya.
          Cheng Hoo memiliki peran yang besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, ia dianggap sebagai pioner penyebaran agama Islam dari etnis Tiong Hwa di pulau Jawa. Bedug yang ada di hampir setiap masjid di pulau Jawa adalah salah satu buktinya, karena sebelum kedatangan Cheng Hoo masyarakat Jawa tidak mengenal bedug. Bedug digunakan sebagai penanda datangnya waktu sholat agar penduduk yang jauh mampu mendengar panggilan itu, apalagi pada saat itu belum ada pengeras suara, tentu jika hanya dengan adzan saja maka tidak dapat terdengar oleh penduduk yang jauh.
          Kisah mengenai Cheng Hoo membangkitkan ingatan kita pada sikap toleransi yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Ia tetap menjaga akidahnya meski hidup di bawah kerajaan yang non Muslim, di sisi lain ia juga tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti agamanya meskipun sebagai seorang paglima ia bisa saja memaksa prajurit-prajuritnya untuk memeluk Islam.
          Sebagai Muslim, ia juga menyadari tugasnya untuk menyebarkan agama Islam. Dan ia melakukan itu, tapi dengan jalan damai, dengan prinsip alon-alon asal klakon. Sambil menjalankan misi ekspedisi yang diperintahkan kaisar China, Cheng Hoo juga menyebarkan agama Islam pada penduduk di mana  ia berlabuh dengan menyesuaikan budaya setempat. Cara dakwah ini pula yang kemudian dilakukan oleh Walisongo.
           Konsep la ikroha fi addin (tidak ada paksaan dalam agama) adalah konsep dasar dalam berdakwah, meski harus diawali dengan peperangan dan ekspansi. Dan mungkin saja Cheng Hoo memegang erat prinsip dasar tersebut. Prinsip yang juga dipegang oleh para pemimpin-pemimpin besar Islam. Sebut saja Sultan Mehmet dari Dinasti Turki Utsmani, ia berhasil merebut Konstantinopel yang disebut sebagai kota paling tak tertembus di dunia setelah pengepungan selama 54 hari dengan tetap membiarkan kota itu utuh, tanpa penghancuran dan penduduknya pun dibiarkan hidup dengan keyakinannya masing-masing. Gereja Katedral Ayya Shofia dijadikan masjid, tetapi ornamen-ornamen yang ada dibiarkan utuh sebagai bukti toleransi antar umat beragama.
            Salahuddin al-Ayyubi (Saladin) pada abad ke-11 M berhasil merebut kembali Yerussalem dari tangan penguasa Nasrani  dengan cara damai, tidak ada pembantaian, tidak ada penjarahan, dan membebaskan semua tahanan setelah membayar uang tebusan. 
              Umar Bin Khothob pada sekira abad ke-15 H sukses menaklukkan Yerussalem dengan tetap membiarkan penduduknya beribadah menurut kepercayaannya masing-masing.
             Dan tentunya, Cheng Hoo juga meneladani Rasulullah yang pada 17 Ramadhan tahun ke 8 Hijrah dengan membawa rombongan sebanyak 10.000 muslim berhasil membuka blockade Quraisy atas Mekah atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah dengan tanpa perlawanan. Meskipun telah berhasil menduduki Mekah, tapi Rasululloh tetap memberi ampunan kepada orang-orang Quraisy dan dengan cara inilah Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai.
         Tapi, masih ada hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar; kenapa Cheng Hoo lebih dikenal sebagai tokoh kultus agama Konghucu dari pada seorang Muslim? Apakah sikap toleransinya yang justru semakin mengaburkan identitas Muslimnya?
           Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada kisah seorang Sultan kerajaan Islam Moghul di India, Akbar Yang Agung.
         Pada abad ke-15 M, Sultan Moghul, Akbar Yang Agung, memerintah. Ia adalah seorang penakluk besar akan tetapi sangat toleran. Ia memiliki prinsip yang disebutnya sulahkul, “toleransi universal”. Bahkan ia menikahi seorang putri Hindu. Meskipun terlahir sebagai Muslim, ia terbuka kepada seluruh pemuka agama lain dan sering mengundang mereka untuk diskusi. Dari hasil diskusi itu, ia menyimpulkan bahwa tidak ada agama yang memiliki kebenaran universal. Sehingga ia mengambil hal-hal terbaik dari masing-masing agama dan dirumuskan menjadi suatu agama baru yang dinamai Din-I Illahi, dan inilah cikal bakal agama Sikh yang hingga kini terus berkembang di India.
        Sikap toleransi yang dicontohkan oleh Rasululloh, Umar Ibn Khothob, Shalahuddin al-Ayyubi dan Sultan Mehmed adalah sikap toleransi yang dibenarkan oleh Islam, akan tetapi toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Akbar adalah sikap toleransi yang kebablasan. Saya tidak berani berspekulasi bahwa apa yang dilakukan Cheng Hoo adalah sikap toleransi yang kebablasan sebagaimana Sultan Akbar, akan tetapi hal tersebut cukup menggambarkan dan mengajarkan pada kita bahwa tasammuh, tepo seliro atau toleransi memang menjadi dasar dakwah namun harus diletakkan sesuai proporsinya dan tidak boleh kebablasan. Karena salah-salah justru akan terjadi sinkritisme agama yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai sebuah akulturasi budaya.
        ‘Ala kulli hal, Cheng Hoo adalah tokoh Muslim besar yang patut kita apresiasi dan menjadi contoh bahwa etnis tidak menghalangi seseorang untuk menyebarkan agama Islam. Dan Islam tidak dibatasi untuk satu etnis saja, tapi ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Ila hadroti Syeikh Muhammad Cheng Hoo, lahu al-Fatihah

NurKholisMasjid4BetterIndonesia.

Rabu, 16 Juli 2014

Semua Kita Punya, Tapi...


Semua Kita Punya, Tapi...
Sebagaimana umumnya daerah di kaki gunung, Siremeng diberkahi dengan tanah yang subur. Hampir semua jenis tanaman pertanian bisa tumbuh di sini. Dari mulai jagung, umbi-umbian, lombok, aneka macam sayuran, buah-buahan, kopi, bahkan komoditas rempah-rempah yang menjadi primadona di Eropa, cengkih, pun tumbuh di sini. 

Namun, pernahkan kita berfikir kemana saja hasil bumi kita didistribusikan? Dan apa yang kita dapatkan dari hasil jerih payah bercocok tanam?
Selama ini kita langsung menjual hasil pertanian begitu saja tanpa terlalu banyak berfikir untung dan rugi. Akibatnya, bercocok tanam tak lebih dari rutinitas tahunan yang siklusnya terus berputar sesuai pakem. Padahal, andai saja kita sedikit mau bersabar, banyak nilai lebih yang bisa kita dapatkan dengan mengolah hasil pertanian tersebut terlebih dahulu sebelum dijual.

Coba bayangkan, berapa uang yang kita dapatkan dengan menjual singkong mentah? Bandingkan dengan harga 1 bungkus keripik singkong yang kita beli di toko, tentu sangat jauh. Dan jika dipikir lebih dalam, betapa (maaf) ‘bodoh’nya kita yang menjual singkong 1 karung untuk membeli keripik singkong beberapa bungkus saja?
Andai saja kita mau sedikit bersusah payah untuk mengolah singkong menjadi kripik, jagung menjadi marning, bihun atau emping, buah-buahan menjadi aneka jenis sirup dan kue, dan sebagainya, maka akan lebih banyak hasil yang kita dapatkan. Ini bukan hanya sekedar perhitungan untung dan rugi, tapi mendorong tumbuhnya industri kecil yang kreatif dan inovatif adalah upaya kecil yang dapat menjadikan Indonesia lebih berdikari.
Ingat! Sudah terlalu lama bangsa ini terkuras sumber dayanya tanpa bisa menikmati hasilnya. Kita menjual bijih besi, lalu kita membeli kembali dalam bentuk mobil, alat-alat elektronik dsb. Kita menjual minyak mentah, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk yang lebih mahal. Kita menjual kayu dan bahan makanan, kemudian kita membeli kembali dalam bentuk furniture dan makanan dalam kemasan. Bahkan kita pun menjual bangsa sendiri untuk menjadi tenaga kerja di negeri orang, mengolah hasil bumi dari Indonesia di luar negeri untuk dijual kembali ke Indonesia.
Lihat, kita menjual bahan baku, kita menjual tenaga, dan akhirnya kita sendiri yang membeli.
Untuk memperoleh hal yang besar, harus dimulai dari hal yang kecil. Dan itu bisa dimulai dari sini, dari Siremeng.


NurKholisMasjid4betterIndonesia

Selasa, 15 Juli 2014

Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya


Nuzulul Qur’an, Awal dari Cahaya*
Memasuki usia 40 tahun, 15 tahun masa pernikahannya dengan Khadijah, Muhammad telah sukses  membangun membangun kehidupan pribadi dan bisnisnya. Dalam kehidupan social ia pun telah menjelma menjadi tokoh muda yang disegani, Ia mendapatkan reputasi dalam masyarakat Quraisy karena keahlian diplomatiknya dan mereka kerap meminta Muhammad untuk bertindak sebagai mediator. Akan tetapi ada kegundahan yang sebenarnya telah lama ia rasakan namun kini semakin memuncak. Ia menderita krisis setengah baya, namun dalam konteks yang sangat serius. Krisis kehidupan dan keimanan.
Ia seringkali merasa teriris hatinya ketika melihat kesenjangan social di sekelilingnya dimana ada sebuah masyarakat  bergelimang harta yang melenakan mereka dari keadaan sekitar. Abai dari teriakan orang miskin, Janda-janda yang hanya mengandalkan derma dan anak-anak yatim yang harus berjuang untuk bertahan hidup.
Hatinya semakin perih tatkala menyaksikan praktek keagamaan masyarakat Quraisy, yang entah mengapa Ia merasa itu bukanlah cara yang benar. Ada keganjilan dalam cara mereka mendekatkan diri kepada Tuhan. Kenyataan itu mendorong Muhammad terdorong untuk mencari tahu jawaban atas segala keganjilan itu, meskipun Ia sendiri tak mengerti bagaimana caranya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri pada waktu-waktu tertentu di dalam sebuah gua di Jabal Nur, berkontemplasi memuaskan kegelisahan hatinya dengan benar-benar menghayati keagungan alam di sekitarnya.
Memasuki tahun ke-3 masa perenungannya, Muhammad sering mengalami mimpi di mana dalam mimpinya Ia melihat cahaya fajar merekah di ufuk timur yang seolah tampak nyata. Bukan satu dua kali mimpi itu ia alami, tapi berulang-ulang sekitar 6 bulan. Hingga pada suatu malam yang gelap nan sunyi, Muhammad merasakan suatu kehadiran yang sangat besar dan menakutkan, seperti ada orang lain selain dirinya. Dan benar adanya, kini Muhammad mendapati dirinya dalam keterkejutan karena didekap dengan sangat erat dari belakang oleh sosok yang tidak dikenal. Dekapan itu membuatnya sulit bernafas, lalu terdengar suara yang tidak seperti datang dari luar tapi seakan datang dari dalam dirinya sendiri, menyuarakan perintah,”Bacalah!”. Dengan ketakutan dan bercucuran keringat Muhammad menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
“Bacalah” suara itu kembali terdengar.
Dan Muhammad tetap menjawab,”Aku tidak dapat membaca!”
Akhirnya, sosok misterius itupun memeluknya semakin erat sambil kembali berucap lantang,”Bacalah”
Setelah itu Muhammad merasa kata-kata agung yang membangkitkan keyakinan terbentuk di dalam hatinya dan pembacaan itu pun dimulai:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 
Setelah bacaan tersebut terpatri dalam diri Muhammad, sosok misterius yang kemudian diketahui sebagai Jibril AS itu pun pergi. Muhammad segera turun dari gua menuju ke rumah. Dengan tubuh gemetar Ia menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku,” Kata Muhammad kepada istrinya. Khadijah pun menyelimuti suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Apa yang terjadi padaku?”
Dengan lembut Khadijah menjawab,”Oh, putra pamanku. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membawakan beban orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang kesulitan.”
Mendengar kata-kata istrinya, Muhammad menjadi tenang dan akhirnya dapat tertidur dengan pulas.
Dengan turunnya wahyu tersebut, maka dimulailah dakwah Muhammad sebagai Rasulullah dan istrinya Khadijah adalah pengikut pertamanya. Dari sini semuanya bermula, mengawali sebuah ledakan besar yang merubah wajah peta sejarah dunia. Dari mulai Hijrah Nabi ke Madinah, diterbitkannya piagam Madinah sebagai cikal bakal konstitusi modern, perang Badr, Fathu Makkah,  dan sterusnya hingga akhirnya cahaya itu sampai kepada kita semua, umat Islam di seluruh dunia.

*Nur Kholis Masjid, disarikan dari berbagai sumber.

Sabtu, 12 April 2014

Menggugat Tuhan


Menggugat Tuhan
Dewasa ini, popularitas uang semakin menguat. Bahkan ia lebih sering diperbincangkan daripada kata Tuhan. Pesonanya membius semua lapisan masyarakat dari kasta sudra sampai Brahmana. Hampir tidak ada tempat di dunia ini yang tidak tersentuh oleh kekuatan uang. Boleh dikata uang adalah Tuhan barunya alam semesta.
Siapa yang berani mengatakan tidak butuh uang? Semua orang butuh uang, bahkan seorang sufi yang dahulu kala terkenal dengan kehidupannya yang zuhud menghindari dunia pun kini lebih akrab dengan uang dan bala tentaranya. Jika dahulu Tuhan ada dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas para sufi, maka kini uang sudah sedikit demi sedikit menyusup dalam geritan putaran tasbih mereka. Hingga suatu hari hanya tersisa satu butir saja dari 99 butiran tasbih yang melekat kata Allah, selebihnya adalah uang.

Tabuh bedug dan moncong corong pada setiap menara Masjid dan surau yang dahulu mengumandangkan suara adzan, memanggil hamba-hamba yang tulus ikhlas menuju rumah Allah untuk mendirikan sholat, kini tidak lebih hanya memekikkan kata uang, lafal Allahu Akbar berganti dengan Uanghu Akbar. Pekikkan itu segera terdengar oleh jiwa-jiwa yang menghamba pada uang, membawa mereka segera melangkah menuju Rumah Allah yang kini menjadi Kasino. Mereka berkenan datang ke Masjid bukan karena Allah, tapi karena penguasa menjanjikan mereka uang, mobil atau jalan-jalan ke Mekah-Madinah.

Haji sebagai pungkasan rangkaian Rukun Islam adalah panggilan Tuhan yang semestinya merefleksikan kedalaman iman seorang hamba. Namun kini Haji hanyalah sebatas tren, bukti bahwa seseorang berada pada lingkaran kasta tertinggi. Haji adalah gaya hidup sosialita, kaum borjuis, pejabat, artis dan eksekutif muda. Jangan harap bisa dianggap kaya dan sukses jika di depan namanya belum bertengger titel haji. Bahkan kini haji menjadi tujuan wisata untuk belanja dan berfoya-foya selain ke Singapura atau Eropa. Bukan Allah yang menjadi tujuan mereka berhaji, tapi mereka datang atas panggilan uang, demi pengakuan bahwa mereka adalah kaum berduit, sang penguasa uang. Padahal sejatinya mereka lah yang dikuasai oleh uang.

Semboyan demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagai salah satu Negara dengan system demokrasi terbaik, Indonesia berusaha mengaplikasikan demokrasi dalam setiap jengkal tanah dan sisi kehidupan rakyatnya. Agar demokrasi benar-benar terwujud maka pemilihan wakil rakyat pun diadakan secara demokratis dengan pemilihan langsung. Rakyat dibebaskan untuk memilih siapa pun menjadi wakilnya di parlemen. Namun apa yang terjadi, Rakyat diajarkan untuk memilih bukan dengan hati tapi dengan uang. Mereka yang terpilih adalah yang berani memberi uang lebih banyak dari calon lainnya, sehingga yang menjadi wakil rakyat adalah uang. Slogan yang berlaku bukan lagi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, tapi dari uang, oleh uang dan untuk uang. Dan pada akhirnya, Negara ini dikuasai oleh uang.

Calon wakil rakyat yang hanya bermodal do’a tidak mampu lagi bersaing dengan yang bermodalkan uang. Entah berapa kali mereka berusaha tetap yakin bahwa Tuhan masih ada dan tidak menutup mata, mereka berdo’a dan terus berdo’a berharap masih ada orang yang berkenan memilihnya tanpa iming-iming uang, namun tetap saja kenyataan membuat mereka patah arang karena kini semua orang membutuhkan uang, bukan do’a. Pada akhirnya mereka bertanya-tanya dimana Tuhan saat ini? Kenapa Ia tak lagi mampu mengabulkan do’a hamba-Nya? Apakah justru Uang lah Tuhan yang sebenarnya, karena uang mampu mengabulkan segala keinginan?

Awalnya pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan itu hanya sebatas bisikan atau gumaman, tapi lama-kelamaan menjadi virus yang mewabah seantero dunia. Manusia menggugat Tuhannya, menggugat eksistensi-Nya, menggugat kemampuan-Nya mengabulkan segala do’a. Gugatan demi gugatan yang tak disambut oleh jawaban-jawaban Tuhan. Ia hanya terdiam dalam singgasana-Nya, mengamati makhluk-Nya yang sedikit demi sedikit pergi meninggalkan-Nya. Beranjak menjauh untuk menyembah Tuhan baru mereka, Uang yang maha esa. Na'udzubillah.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
                       رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

#NurKholisMasjid4BetterIndonesia

Organisasi Pro Dilema


Organisasi Pro Dilema
Organisator atau Akademisi?
To live is to choose. Karena kita dilahirkan maka kita harus berani memilih jika ingin bertahan hidup. Menjadi mahasiswa adalah salah satu pilihan yang sebagian dari kita pilih selepas lulus dari sekolah menengah atas. Namun bukan berarti setelah jadi mahasiswa kita tidak dihadapkan pada pilihan, justru di sinilah kedewasaan kita dipertaruhkan untuk memilih mana yang terbaik.

Di satu sisi Mahasiswa dituntut untuk menjadi akademisi, maka berprestasi dalam bidang akademik adalah harga mati. Namun di sisi lain, ia juga  pribadi yang butuh wadah untuk pengembangan diri di luar bidang akademik, maka salah satu pilihannya adalah bergabung dalam organisasi.

Jika pilihan sudah jatuh untuk bergabung dengan sebuah organisasi (misalnya BEM, ROHIS, ORDA dll), maka berbagai pertanyaan dilematis pun akan muncul, misalnya; Apa sih gunanya saya bergabung dengan organisasi?, Bisakah saya tetap berprestasi akademik jika aktif disini? Emang saya bisa makan dari sini? Jawabannya pun tergantung pada pilihan kita; Menjadi sekedar Akademisi, organisator saja atau organisator yang akademis.

Berpolitik atau Berorganisasi?
Biasanya organisasi selalu diidentikkan dengan politik, bahkan banyak sekali mereka yang berkecimpung dalam dunia organisasi tetapi tidak berorganisasi, mereka hanya asyik berpolitik.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam berpolitik tidak ada kawan maupun lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Tapi dalam berorganisasi, semuanya adalah kawan. Bahkan mereka yang dianggap lawan pada hakikatnya bukanlah lawan, tapi kompetitor yang sangat besar sumbangsihnya terhadap perkembangan sebuah organisasi.

Segala Cara yang Halal atau Menghalalkan Segala Cara?
Setiap orang yang benar-benar menghargai karunia hidup, pasti ia memiliki tujuan. Dan untuk mencapai tujuan itu, berbagai cara pun dilakukan. Ada cara yang baik, dan ada cara yang tidak baik.  Organisator sejati, ia akan menanggung resiko apapun asalkan tujuannya dapat tercapai dengan segala cara yang halal. Sebaliknya, mereka yang menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuan adalah oknum dalam organisasi yang tidak siap dengan resiko dan tidak patut untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Apa Pesan Allah dan Rasulullah?
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali Imron [103]:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
" Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai".
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah dlm berbuat baik dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda:
ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته
                                                                                                                                                “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya …”.

Selamat berorganisasi, dan selamat belajar menghargai proses.

#NurKholisMasjid

Selasa, 18 Maret 2014

Selamat Jalan Mbah Basyir


Innalillahi wainna ilaihi raajiuun.
Belum juga mendung duka umat Islam memudar setelah wafatnya Ketua MUI, KH Sahal Mahfudz, kini umat Islam kembali ditinggal oleh salah satu tokoh kebanggaannya yaitu Simbah KH Ahmad Basyir atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Basyir Jekulo. Ulama kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus , Jawa Tengah ini  wafat pada hari Selasa (18/3), pukul 00.10 WIB di Rumah Sakit Islam  Kudus. 
Masih hangat dalam ingatan saya tatkala sowan ke rumah beliau untuk meminta do’a sekaligus ijazah dala’ilul Qur’an ketika saya masih sekolah dan nyantri di Mranggen. Meski terhitung hanya dua kali sowan pada beliau, namun karisma dan sikap tawadlu beliau senantiasa terkenang dan menjadi suri tauladan bagi saya dalam menjalani lika-liku kehidupan.
Satu moment yang masih saya ingat adalah tatkala beliau menyampaikan nasihat tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap. Beliau mengatakan betapa bodohnya umat Islam yang punya dalil tapi tidak dapat mengamalkannya. Sebagai contoh anjuran Nabi agar kita membiasakan bangun di pagi hari dan memulai aktifitas lebih awal sebagaimana hadish yang diriwayatkan oleh ‘A’ishah R.Ah. bahwasanya beliau mendengar Rasulullah bersabda:

" بَاكِرُوا طَلَبَ الرِّزْقِ وَالْحَوَائِجِ ؛ فَإِنَّ الْغُدُوَّ بَرَكَةٌ وَنَجَاحٌ "

Namun pada kenyataannya, sangat sedikit umat Islam yang bersegera untuk bangun pagi dan memulai aktifitasanya. Petuah Rasul tersebut justru dijalankan oleh orang-orang cina yang notabene bukan beragama Islam.
Mbah Basyir mencontohkan bahwa saat beliau masih muda, sering melihat tetangganya yang keturunan Cina mengayuh sepeda yang penuh bermuatan tahu ke pasar sewaktu beliau hendak pergi ke Masjid untuk Jama’ah Sholat Shubuh, di saat tetangga-tetanggga yang lain masih terlelap tidur. Aktifitas itu dilakukannya secara istiqomah sampai ia akhirnya menjadi pedagang sukses yang kaya raya. Kalau Orang Cina yang non Muslim saja mendapatkan berkahnya bangun pagi, apalagi kita yang Muslim, pasti akan lebih berkah lagi apabila berkenan untuk bangun pagi dan memulai aktifitas lebih awal.
Ya, begitulah Mbah Basyir, beliau lebih suka memberi nasehat dengan realitas yang ada, daripada harus mengeluarkan ribuan dalil. Sikap beliau yang tawadlu dan menghormati tamu siapapun yang menemuinya, sangat cukup untuk menjadikan beliau sebagai guru yang patut untuk digugu dan ditiru. Kehidupan beliau yang sederhana pun menyiratkan betapa beliau adalah sosok yang benar-benar meneladani peri kehidupan Rasulullah.
Kini, beliau telah tiada, namun namanya tetap harum semerbak di mayapada.
Selamat jalan Mbah Basyir, semoga setiap untaian kata yang engkau ucapkan, setiap tindakan nyata yang engkau contohkan, setiap do’a yang engkau panjatkan, berbuah kebaikan bagi seluruh umat Islam.
اللهم اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نُزُله. ووسع مُدخله. واغسله بالماء والثلج والبرد ، ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس ، وأبدله داراً خيراً من داره ، وأهلاً خيراً من أهله وزوجاً خيراً من زوجه وأدخله الجنة وأعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار

#Nur Kholis Masjid#