قال عليه الصلاة والسلام : (قوام الدنيا بأربعة أشياء،
بعلم العلماء وعدل الأمراء
وسخاوة الأسخياء ودعوة الفقراء
(Rasulullah SAW bersabda,"Kokohnya dunia karena empat perkara: Ilmu 'Ulama', keadilan pemimpin, kedermawanan para dermawan dan do'a fakir miskin.")
Apa yang disampaikan Rasulullah tiada lain adalah kebaikan. Maka tatkala beliau bersabda bahwa kokohnya dunia bersandar pada empat pilar yaitu ilmu 'ulama, adilnya para pemimpin, dermawannya orang yang kaya, dan do'a fakir miskin adalah sebuah petunjuk yang harus kita jadikan sebagai pedoman. Untuk itulah Shaikh Uthman bin Hasan bin Ahmad al-shakir dalam karyanya "Durrah al-Nasihin" merasa perlu untuk membahas hadith tersebut secara panjang lebar.
Sebagai sebuah negara yang menganut asas demokrasi, Indonesia memberikan hak kepada warganya untuk memilih dan dipilih. setiap orang berhak untuk memilih siapa yang menjadi pemimpinnya dan berhak pula untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin. dengan demikian maka adil atau tidaknya pemimpin adalah hasil dari ikhtiyar kita dalam memilih. Apabila kita kaitkan dengan hadith di atas, dapat difahami bahwa kita turut andil dalam upaya menjaga dunia ini tetap kokoh dengan memilih pemimpin yang adil.
Pada tanggal 9 April 2014 nanti, bangsa Indonesia akan menggelar pesta demokrasi (PEMILU) untuk menentukan anggota legislatif yang akan mewakili suara kita. Pemilih menjadi elemen yang sangat penting dalam Pemilu. Oleh karena itu perlu kita ketahui beberapa tipe pemilih di Indonesia, di antaranya:
Pertama, pemilih tradisional.
Pemilih yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang dalam memilih hanya mengikuti instruksi dari pemuka atau pemimpinnya (sami'na wa atho'na). Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dienyam dan mudahnya mendapatkan informasi, maka tipe pemilih tradisional semakin berkurang karena kecenderungan orang bergeser dari hanya sekedar 'taklid' menjadi 'ijtihad'.
Kedua, pemilih transaksional.
Tipe pemilih ini adalah mereka yang memiliki slogan, "wani piro?". Dalam memilih, pertimbangan untung rugi menjadi faktor penentu. Siapapun akan dipilih asalkan mau membayar mereka. Pada dasarnya pemilih tipe ini bukanlah tipe pemilih yang cerdas, karena tanpa disadari mereka telah menggadaikan Indonesia lima tahun ke depan dengan selembar uang atau sehelai kaos saja.
Ketiga, pemilih konsepsional.
Pemilih tipe ini adalah mereka yang memilih pemimpin dengan hati nurani berdasarkan informasi dan fakta-fakta tentang calon pemimpinnya. Mereka memilih bukan karena berapa banyak uang yang diperoleh, tapi karena kecakapan yang dimiliki oleh calon pemimpin mereka. Pemilih konsepsional adalah pemilih yang cerdas dan tentunya dengan semakin banyaknya pemilih tipe ini, maka semakin besar pula harapan akan munculnya pemimpin yang adil.
Keempat, pemilih lillahi ta'ala.
Pemilih lillahi ta'ala merujuk pada pemilih yang minim informasi terkait Pemilu sehingga mereka tidak tahu mengenai detail tata cara pelaksanaan pemungutan suara. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor, antara lain karena daerahnya yang terpencil, lanjut usia atau tidak bisa baca tulis. Termasuk dalam pemilih jenis ini adalah mereka yang acuh tak acuh atau abai terhadap pemilu sehingga pada saat memilih mereka hanya asal saja mencoblos surat suara.
Dengan mengetahui tipe-tipe pemilih, maka diharapkan kita akan dapat berinstropeksi diri dan ke depannya mendorong diri sendiri dan orang lain untuk menjadi pemilih yang konsepsional sehingga akan terpilih pemimpin yang adil.
Melalui wasilah pemimpin yang adil itulah, akan tercipta negara Indonesia menjadi "Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafurun". Amin.
#Nur Kholis Masjid#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar