Harmoni Warga
Desa dan Sandiwara Para Penguasa
(Siremeng
Menyambut HUT RI Ke-69)
17
Agustus bukanlah hari biasa, karena pada tanggal yang sama 69 tahun yang lalu,
tepatnya pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya.
Kemerdekaan merupakan karunia besar dari Alah SWT yang sudah sepatutnya kita syukuri.
Karena tanpa kemerdekaan kita tidak dapat tenang beribadah dan memperoleh
segala fasilitas serta kemudahan seperti yang ada sekarang.
Sebagai
salah satu bentuk syukur nikmat kemerdekaan, warga Negara Indonesia dari Sabang
sampai Merauke berlomba-lomba untuk menyambut 17 Agustus dengan berbagai macam
hiasan dan kegiatan. Tak ketinggalan pula warga desa Siremeng kecamatan
Pulosari kabupaten Pemalang yang dengan sangat antusias menyambut 17 Agustus.
Sudah
semenjak awal bulan Agustus warga desa Siremeng terlihat sibuk menghiasi
jalan-jalan desa dengan aneka hiasan. Semua pihak terlibat, baik ibu-ibu,
bapak-bapak, para remaja maupun anak-anak. Ibu-ibu sibuk memasukkan air yang
sudah diberi aneka warna ke dalam plastik kecil yang dibuat berbagai macam
bentuk. Bapak-bapak menyiapkan bambu bercabang untuk hiasan dan bambu lurus
untuk tiang bendera. Para remaja sibuk memasang bendera merah putih kecil yang
dipasang zigzag sepanjang jalan dan membuat gapura pemisah antar RT. Anak-anak
pun tak mau ketinggalan ikut bersuka ria kesana kemari membantu ibu-ibu dan
para remaja.
Sungguh
suatu pemandangan yang menakjubkan dan menyentuh hati melihat betapa kompak dan
gembiranya mereka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Suatu keadaan
yang meniscayakan betapa cintanya mereka terhadap NKRI. Suatu sikap yang
melandaskan pada sebuah ungkapan bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari
iman. Mereka menyadari bahwa cinta tanah air adalah bagian dari tanggungjawab sebagai
insan beragama sehingga bagi mereka menyambut 17 Agustus adalah salah satu
wujud manifestasi iman dalam bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan yang
diberikan oleh Allah SWT.
Melihat
hal di atas, rasa-rasanya sangat kontras dengan pemberitaan-pemberitaan di
televisi yang mempertontonkan betapa tidak harmonisnya petinggi-petinggi kita.
Mereka terus saling sikut berebut kekuasaan, sampai lupa bahwa Negara ini
diperjuangkan oleh para pahlawan untuk bisa bersatu. Mungkin, setelah Pilpres 2014
usai, para petinggi negeri ini perlu berkunjung ke desa-desa agar mereka bisa
belajar tentang kerukunan, tentang ke-Bhineka Tunggal Ika-an dan kecintaan
terhadap Indonesia seperti yang selama ini mereka gembor-gemborkan. Dan
sesekali, warga desa Siremeng juga ingin dikunjungi oleh Presiden dan para
menteri-menterinya. Maklum, semenjak negeri ini merdeka tak pernah ada satu
Presiden atau menteri pun yang menginjakkan kaki di desa yang damai ini.
#NurKholisMasjid4BetterIndonesia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar