Selasa, 10 Maret 2020

MUADZIN SHOLAT JUM'AT, INI DIA TATA CARANYA

Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Istiqlal.

Purbalingga, Cak Nur News.
Sebagai penganut Madzhab Syafi'i, mayoritas masjid di Indonesia masih lestari Jum'atan (Sholat Jum'at) dengan dua kali adzan.

Adzan dua kali pada Sholat Jum'at bukan hanya berlaku di Indonesia namun juga di berbagai belahan dunia, termasuk di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi hingga sekarang.

Hal tersebut sudah berlaku semenjak masa sahabat Utsman bin Affan RA.

Sebagaimana dijelaskan oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashais Jum’ah bahwa selain shalat shubuh adzan dua kali juga boleh dilakukan sebelum shalat Jum’at. Sebagaimana shalat shubuh, tujuan adzan pertama ialah untuk mengingatkan orang agar segera datang ke masjid, dan adzan kedua menjadi petanda masuknya waktu shalat.

Dalam Shahih Bukhari dijelaskan, dahulu pada masa Rasul dan masa Khalifah Abu Bakar serta Umar bin Khatab adzan Jum’at dikumandangkan ketika imam duduk di atas mimbar. Namun pada masa Utsman bin Affan, umat Islam sudah mulai banyak. Utsman pun menambah adzan Jum’at menjadi dua kali.

Salah satu ciri khas Jum'atan di masjid yang melestarikan tradisi adzan dua kali di Indonesia adalah bacaan yang dibaca oleh Muadzin.

Berikut ini adalah bacaan muadzin Sholat Jum'at yang penulis sarikan dari beberapa sumber terpercaya.

1. Membaca doa pengantar sebelum melakukan adzan pertama:

سُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَاِلاَّبِااللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ . اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْ لاًمِّمَّنْ دَعَااِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًاوَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ . قُلِ ادْعُوااللهَ اَوِادْعُواالرَّحْمٰنَ اَيًّامًّاتَدْعُوْافَلَهُ اْلاَسْمَآءُاْلحُسْنٰى . وَلاَتَجْهَرْبِصَلاَتِكَ وَلاَتُخَافِتْ بِهَاوَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلاً . وَقُلِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِ يْ لَمْ يَتَّخِذْوَلَدًاوَّلَمْ يَكُنْ لّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّ لِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا . اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلىٰ آلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ
Do'a tersebut boleh hanya dibaca singkat sebagaimana berikut ini :
سُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُلِلهِ وَلاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَاِلاَّبِااللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلىٰ آلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ

2. Setelah membaca doa pengantar,  muadzin mengumandangkan adzan pertama. Adzan pertama dikumandangkan lebih panjang dari adzan kedua.

3. Setelah adzan selesai, para jamaah melakukan sholat sunnah qobliyah jum’at. Selepas itu, muadzin kembali berdiri untuk membaca bacaan berikut ini:

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ ، رُوِيَ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، اَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ اَنْصِتْ وَالْاِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ ، وَمَنْ لَغَا فَلَا جُمْعَةَ لَهُ ، اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ ×٣
4. Di saat khatib akan menaiki mimbar, muadzin mengiringi dengan membaca sholawat nabi

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ
5. Setelah itu, muadzin membaca doa berikut ini:

اَللّٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ, مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ , وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ , اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ , وَانْصُرْهُمْ عَلَى اْلمُعَانِدِّيْنَ . يَارَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ , وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
6. Selanjutnya, setelah khotib memberi salam, muadzin mengumandangkan adzan kedua, adzan kedua ini baiknya lebih pendek dari adzan pertama.

7. Setelah adzan, khotib berdiri untuk berkhutbah. Saat khotib berkhutbah, para jamaah harus tenang dan diam mendengarkan khotib. Dan pada waktu khotib duduk antara dua khutbah, muadzin membaca sholawat, sholawat yang umum digunakan adalah seperti ini:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ، وَزِدْوَاَنْعِمْ وَتَفَضَلْ وَبَارِكْ ، بِجَلَالِكَ وَكَمَالِكَ عَلٰى زَيْنِ عِبَادِكْ ، وَاَشْرَفِ عِبَادِكَ ،  سَيِّدِاْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ ، وَاِمَامِ طَيْبَةَوَاْلحَرَمِ ، سَيِّدِنَاوَمَوْلَانَا مَحَمَّدٍ وَّعَلىٰ آلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىٰ عَنْ كُلِّ صَحَا بَةِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ
Pada waktu khotib duduk diantara dua khutbah adalah waktu yang mustajab, karena itu, para jamaah dianjurkan untuk berdoa. Kemudian khotib berdiri lagi untuk khutbah kedua.

8. Setelah khotib selesai berkhutbah, muadzin berdiri lagi untuk iqomah.

Demikian bacaan muadzin sholat Jum'at yang lazim dibaca. Semoga bermanfaat untuk menambah hazanah keilmuan kita. Dan menjadi bekal bagi anda yang menjadi muadzin.

Minggu, 08 Maret 2020

PEMBUKAAN KONFERENSI MWCNU DAN KONFERANCAB MUSLIMAT NU MREBET SUKSES DIGELAR

PEMBUKAAN KONFERENSI MWCNU DAN KONFERANCAB MUSLIMAT NU MREBET SUKSES DIGELAR

Gedung NU Mrebet penuh sesak dengan peserta konferensi

Mrebet, Cak Nur News.
Gedung NU Mrebet pagi ini 08/03/2020 penuh sesak oleh ratusan peserta Konferensi MWCNU dan KONFERANCAB Muslimat NU Mrebet.

Perhelatan konferensi ini bukanlah seremonial belaka, namun lebih dari itu. Ia adalah bukti berjalannya roda organisasi MWCNU dan PAC Muslimat NU Kecamatan Mrebet.

Abdul Mujib selaku Ketua Panitia Konferensi MWC memaparkan bahwa konferensi ini dihadiri oleh seluruh perwakilan ranting dari 19 desa yang ada di Kecamatan Mrebet. "Konferensi ini dibiayai secara mandiri dari kas yang dimiliki oleh MWCNU Mrebet."pungkas Abdul Mujib.

Ada sekira 80 peserta Konferensi MWCNU yang hadir dan 200 selebihnya adalah peserta Konferancab Muslimat NU.

Tampak salah satu peserta sedang mengisi daftar hadir.

Pada kesempatan yang sama, Ahmad Muhdir, Ketua PCNU Purbalingga mengapresiasi kesuksesan panitia dalam menyelenggarakan konferensi ini dan berharap agar ke depan gerakan kemandirian NU semakin maju.

Konferensi dibuka secara resmi oleh Ketua PCNU Purbalingga, KH. Ahmad Muhdzir, S.Ag., MM.

Sabtu, 07 Maret 2020

10 Tahun Berhibernasi, Badko TPQ Purbalingga Bangkit Kembali


Ustadz Syarif sedang menyampaikan sambutannya dalam Musda Badko TPQ

10 TAHUN BERHIBERNASI, BADKO TPQ PURBALINGGA BANGKIT KEMBALI

PURBALINGGA, Cak Nur News.
Badko TPQ sebagai wadah yang mengkoordinasikan Guru-guru TPQ sudah tidak diragukan lagi kontribusinya bagi kemajuan pendidikan al-Qur'an di Indonesia. Namun demikian tidak semua daerah kepengurusannya aktif.

Seperti di Purbalingga, sejak dilantik 10 tahun yang lalu selama itu pula Badko TPQ Kab Purbalingga seakan jalan ditempat. Hal tersebut disampaikan oleh   Ustadz Syarif Hidayat dalam sambutannya selaku Ketua panitia MUSDA BADKO TPQ KAB.PURBALINGGA yang dilaksanakan pada Sabtu,7/03/2020 bertempat di pendopo Cahyana Purbalingga.

Musda Badko TPQ Kabupaten Purbalingga 2020 ini merupakan tanda kembangkitan kembali Badko TPQ setelah sekian lama berhiberbasi.

Untuk mengawali kegiatan tersebut dilaksanakan pengukuhan Badko TPQ kecamatan se-kabupaten Purbalingga yang dikukuhkan oleh Ketua I Badko TPQ Jawa Tengah, Ustadz Fauzan.

Pembukaan Musda juga dihadiri oleh Bupati Purbalingga ibu Hj. Diyah Hayuning Pratiwi, SE., B.Econ., MM.

Dalam sambutannya beliau sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap agar Badko TPQ dapat saiyeg saeko proyo bis holobis kuntul baris dengan Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam mensukseskan Visi dan Misi Kabupaten Purbalingga yang berakhlakul karimah.

Pada kesempatan tersebut Bupati juga menyampaikan bahwa beliau akan menganggarkan dalam anggaran perubahan tahun 2020 dana hibah sebesar 200 juta rupiah untuk Badko TPQ.

Peserta yang hadir dalam pembukaan sebanyak 540 orang dari 18 kecamatan di Purbalingga.

Seusai Pembukaan dilanjutkan acara inti Musda dengan agenda utama pemilihan ketua Badko TPQ Kabupaten Purbalingga.
GELAR KONFERENSI, MWCNU MREBET SIAP REORGANISASI

Mrebet, Cak Nur News.
Gegap gempita suasana konferensi kian terasa. Persiapan demi persiapan terus dimatangkan oleh panitia.

Sahabat Ansor Banser memasang banner Selamat Datang peserta konferensi MWCNU Mrebet.

Sahabat-sahabat Ansor Banser terlihat sedari kemarin memasang bendera di sekitaran gedung NU Mrebet. Banner pun sudah di pasang di arena konferensi.

Konferensi MWCNU Mrebet akan digelar besok Ahad, 08/03/2020. Pembukaan dilaksanakan di Gedung NU Mrebet, sedangkan acara konferensi bertempat di Masjid Baitul Muttaqin Jumbren.

Kyai Mujib selaku ketua panitia menuturkan bahwa pada Pembukaan, Konferensi akan dihadiri oleh Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, Forkompincam Kecamatan Mrebet, Ketua PAC Muslimat, Fatayat dan GP Ansor Kecamatan Mrebet serta 4 orang delegasi dari masing-masing Pengurus Ranting se-Kecamatan Mrebet.

Undangan sudah disebar sejak Jum'at, 06/03/2020 kemarin.

Ketua MWCNU Mrebet, KH. Kosimunanto ketika penulis temui di kediamannya menyampaikan bahwa sebenarnya Ia masih menjabat sampai akhir tahun ini, namun karena pertimbangan kesehatan beliau meminta agar konferensi dipercepat.

Beliau berharap penerusnya nanti mampu melanjutkan apa yang telah diperjuangkan oleh jajaran pengurus sekarang.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Harmoni Warga Desa dan Sandiwara Para Penguasa (Siremeng Menyambut HUT RI Ke-69)





Harmoni Warga Desa dan Sandiwara Para Penguasa
(Siremeng Menyambut HUT RI Ke-69)

17 Agustus bukanlah hari biasa, karena pada tanggal yang sama 69 tahun yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Kemerdekaan merupakan karunia besar dari Alah SWT yang sudah sepatutnya kita syukuri. Karena tanpa kemerdekaan kita tidak dapat tenang beribadah dan memperoleh segala fasilitas serta kemudahan seperti yang ada sekarang.
Sebagai salah satu bentuk syukur nikmat kemerdekaan, warga Negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke berlomba-lomba untuk menyambut 17 Agustus dengan berbagai macam hiasan dan kegiatan. Tak ketinggalan pula warga desa Siremeng kecamatan Pulosari kabupaten Pemalang yang dengan sangat antusias menyambut 17 Agustus. 


Sudah semenjak awal bulan Agustus warga desa Siremeng terlihat sibuk menghiasi jalan-jalan desa dengan aneka hiasan. Semua pihak terlibat, baik ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja maupun anak-anak. Ibu-ibu sibuk memasukkan air yang sudah diberi aneka warna ke dalam plastik kecil yang dibuat berbagai macam bentuk. Bapak-bapak menyiapkan bambu bercabang untuk hiasan dan bambu lurus untuk tiang bendera. Para remaja sibuk memasang bendera merah putih kecil yang dipasang zigzag sepanjang jalan dan membuat gapura pemisah antar RT. Anak-anak pun tak mau ketinggalan ikut bersuka ria kesana kemari membantu ibu-ibu dan para remaja.


Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan dan menyentuh hati melihat betapa kompak dan gembiranya mereka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Suatu keadaan yang meniscayakan betapa cintanya mereka terhadap NKRI. Suatu sikap yang melandaskan pada sebuah ungkapan bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Mereka menyadari bahwa cinta tanah air adalah bagian dari tanggungjawab sebagai insan beragama sehingga bagi mereka menyambut 17 Agustus adalah salah satu wujud manifestasi iman dalam bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SWT.
Melihat hal di atas, rasa-rasanya sangat kontras dengan pemberitaan-pemberitaan di televisi yang mempertontonkan betapa tidak harmonisnya petinggi-petinggi kita. Mereka terus saling sikut berebut kekuasaan, sampai lupa bahwa Negara ini diperjuangkan oleh para pahlawan untuk bisa bersatu. Mungkin, setelah Pilpres 2014 usai, para petinggi negeri ini perlu berkunjung ke desa-desa agar mereka bisa belajar tentang kerukunan, tentang ke-Bhineka Tunggal Ika-an dan kecintaan terhadap Indonesia seperti yang selama ini mereka gembor-gemborkan. Dan sesekali, warga desa Siremeng juga ingin dikunjungi oleh Presiden dan para menteri-menterinya. Maklum, semenjak negeri ini merdeka tak pernah ada satu Presiden atau menteri pun yang menginjakkan kaki di desa yang damai ini.

#NurKholisMasjid4BetterIndonesia

Air





Air
Asumsi yang mengatakan bahwa desa-desa di kaki gunung mudah mendapatkan air tidak sepenuhnya benar. Karena faktanya ada beberapa wilayah di kaki gunung yang sulit mendapatkan air, baik karena jauhnya sumber mata air, tekstur tanah, maupun aktifitas warganya yang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Salah satu wilayah di kaki gunung yang sulit mendapatkan air adalah kecamatan Pulosari kabupaten Pemalang yang terletak di kaki gunung Slamet. Sebagian besar desa di kecamatan ini sulit mendapatkan air, seperti desa Siremeng, Clekatakan, Gunungsari, Pagenteran, dsb. Desa-desa tersebut hanya mudah mendapatkan air ketika musim hujan dengan memanfaatkan air hujan yang ditampung ke dalam kolam ataupun bak. Sedangkan di musim kemarau para warga harus membeli air yang biasanya diambil dari desa Karangsari atau dari pemandian Moga.
Setidaknya ada  tiga factor yang menyebabkan desa-desa tersebut sulit mendapatkan air sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Yang pertama adalah factor jauhnya sumber mata air, seperti desa Siremeng misalnya. Desa ini tidak memiliki mata air yang dekat dengan pemukiman warga. Mata air hanya terdapat di ‘gunung’ Pesamoan, ‘gunung’ Siremeng dan perbukitan lain yang letaknya jauh dari pemukiman. Untuk mendapatkan air warga harus berjalan jauh naik turun bukit yang medannya hanya jalan setapak dan sangat berbahaya. Upaya untuk mengalirkan air dari mata air ke pemukiman warga sangat sulit untuk direalisasikan karena letak mata air itu kebanyakan lebih rendah dari posisi desa dan harus melewati perbukitan. Air yang bisa dialirkan melalui pipa dan sampai sekarang menjadi tumpuan warga adalah yang bersumber dari gunung Pesamoan karena letaknya yang lebih tinggi dari posisi desa dan debit airnya yang cukup besar.

Factor kedua adalah tekstur tanah. Wilayah di kecamatan Pulosari sebagian besar adalah tanah bebatuan. Oleh karena lapisan tanahnya didominasi oleh bebatuan maka sangat sulit sekali untuk bisa mendapatkan sumber air dari dalam tanah. Membuat sumur di sini hampir merupakan usaha yang mustahil. Di desa-desa selain Cikendung , Karangsari, dan desa lain yang memiliki mata air, belum pernah ada orang yang berhasil membuat sumur yang bisa mengeluarkan air.
Factor ketiga adalah kepedulian warga terhadap kelestarian alam. Meski jauh dari sumber mata air, beberapa desa di kecamatan Pulosari puluhan tahun yang lalu masih bisa mendapatkan air yang dialirkan dari mata air melalui pipa-pipa besi baik di musim hujan maupun kemarau. Namun sekarang baru beberapa hari saja kemarau tiba, air sudah tidak lagi mengalir sehingga warga harus membeli air yang harganya semakin mahal jika kemarau semakin lama melanda. Penyebab dari tidak mengalirnya air tersebut adalah karena berkurangnya debit air dari sumber mata air. Debit air berkurang karena penebangan pohon yang membabi buta. Banyaknya pohon yang ditebang menjadikan semakin sedikitnya volume air hujan yang bisa ditampung oleh akar pepohonan yang menjadi sumber mata air. Akibatnya, mata air menjadi kecil alirannya atau bahkan mati sama sekali sehingga warga tidak lagi bisa menikmati air bersih dan terpaksa harus membeli air ketika kemarau tiba.
Air menjadi kebutuhan pokok yang terus saja menjadi masalah utama bagi warga di kecamatan Pulosari. Keberadaannya yang sedemikian penting menjadikannya sebagai komoditas yang srategis baik dari sisi ekonomi, social maupun politik. Dari segi ekonomi, air bersih menjadi dagangan yang menjanjikan yang harga perliternya bisa lebih mahal dari minyak goreng. Maka tidak heran jika di musim kemarau banyak orang yang beralih profesi menjadi penjual air. Di sisi lain, para petani, peternak dan ibu rumah tangga semakin menjerit karena tidak mampu membeli air.
Dari segi social, air juga mempengaruhi kehidupan social warga. Tidak jarang air menjadi sumber berbagai permasalahan. Ketika kemarau tiba, maka akan terjadi antrean panjang warga untuk mendapatkan air di ledeng-ledeng yang ada di hampir setiap RT. Terkadang karena masalah antrean dan sedikit banyaknya air yang didapatkan bisa terjadi pertengkaran dan perkelahian antar warga. Tidak meratanya distribusi bantuan air bersih dari pemerintah juga semakin memperkeruh suasana. Pemasangan jalur pipa baru yang dirasa oleh warga tidak adil dapat pula mamantik kemarahan warga yang berujung menjadi permusuhan antar kelompok yang tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan social warga.
Yang terakhir adalah dari segi politik. Dalam dunia politik adalah sangat penting mengetahui sesuatu apa yang paling dibutuhkan oleh konstituen. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat dikatakan seseorang telah berhasil mendapatkan kunci kemenangannya. Dan isu strategis yang paling diminati warga di kecamatan Pulosari adalah air. Maka siapa pun  orangnya, akan bisa mendapatkan hati warga jika yang ia janjikan adalah air. Sudah tak terhitung berapa banyak politikus yang berhasil memenangkan hati warga dan duduk di tampuk kekuasaan dengan bermodalkan janji mengaliri desa-desa di kecamatan Pulosari dengan air bersih yang akan terus mengalir meski kemarau melanda.
Bagi warga, janji pembangunan pipa air yang mampu mengalirkan air bersih ke desa-desa mereka adalah bagaikan musafir padang pasir yang seakan melihat oase di kejauhan. Siapa pula yang tak tergoda dan diliputi rasa gembira? Maka meski oase itu jauh, musafir itu tentu saja merasa lega karena sebentar lagi ia akan merasakan segarnya air dan ia pun mantap melangkah menuju oase. Meski air belum mengalir, warga tetap yakin bahwa sang politikus akan memenuhi janjinya. Warga pun memilihnya. Ketika ia telah terpilih barulah warga menyadari bahwa air tidak akan pernah bisa mengalir ke desa-desa mereka. Sebagaimana halnya musafir yang setelah dekat, baru lah ia sadar bahwa oase yang ia lihat hanyalah fatamorgana belaka.

Situasi ini juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Pihak-pihak ini memanfaatkan kebutuhan warga terhadap air untuk pengajuan proyek-proyek yang berhubungan dengan air. Entah sudah berapa banyak proyek-proyek yang mengatasnamakan pengadaan air bersih namun berakhir dengan ketidakjelasan. Proyek yang sedianya bertujuan mulia dan memang dianggarkan oleh pemerintah, namun hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Mereka yang terlibat dalam proyek semakin sejahtera dan terus saja kebanjiran proyek demi proyek. Sementara rakyat jelata hanya bisa menelan pil pahit kekecewaan tanpa bisa menuntut apapun, dan jika pun ada, mereka pun bingung  kepada siapa mereka harus menuntut.
Mungkin walaupun 1001 kali warga di kecamatan Pulosari dikecewakan, mereka tetap berharap bahwa suatu saat desa-desa mereka benar-benar dapat dialiri air yang terus mengalir baik di musim hujan maupun kemarau. Faktanya, kini mereka kembali percaya dengan janji sang ‘pemimpin’ yang menjanjikan air bagi mereka. Entah kali ini janji itu akan ditepati dan harapan warga akan terpenuhi atau tidak, hanya Tuhan dan mereka yang terlibat dalam proyek itu yang tahu. Dan warga hanya bisa mengamini… Amin.

Mudik: Sebuah Tradisi Bernilai Islami




Hari raya Idul Fitri adalah momen special yang ditunggu oleh jutaan umat Islam khususunya di Indonesia setelah selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri menjadi begitu spesial karena hari itu adalah saat di mana umat Islam merayakan kemenangan dari jihad akbar melawan hawa nafsu dan saat di mana umat Islam saling berjabat tangan untuk bermaaf-maafan.
Berjabat tangan ketika lebaran dengan saling mengucapkan permintaan maaf memiliki arti yang sangat penting bagi umat Islam Indonesia. Hal tersebut merupakan sunah yang diajarkan Rasul bahwa ketika dua orang saling berjabat tangan maka seketika itu juga dosanya diampuni oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam berusaha bagaimanapun caranya agar saat hari raya Idul Fitri bisa bertemu dengan sanak famili dan handai taulan untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Atas dasar keyakinan itu lah maka muncul budaya yang sekarang kita kenal dengan ‘mudik’. Mudik menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun bagi putera daerah yang karena berbagai macam tujuan harus tinggal jauh di tanah perantuan. Mudik melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya dan bahkan bukan hanya memakan waktu dan biaya tetapi juga korban nyawa.
Banyaknya penduduk desa yang berurbanisasi ke kota, transmigrasi ke luar pulau, atau menikah dengan orang luar daerah semakin menumbuh suburkan budaya mudik ini. Meski banyaknya resiko yang harus mereka hadapi tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk pulang ke kampung halaman. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan itu. Mereka ingin menjaga tradisi, melestarikan budaya silaturahmi dan tentunya memikul tanggungjawab sebagai seorang muslim agar senantiasa menjaga nilai-nilai Islam tetap kokoh di bumi nusantara.
Islam adalah agama yang telah berhasil melahirkan kebudayaan dan tradisi luhur yang mengangkat harkat martabat manusia. Tradisi dan budaya yang lahir dari Islam memiliki landasan akidah yang kuat yaitu dalam rangka menanamkan ketauhidan dalam dada setiap manusia. Faktanya nilai-nilai Islam meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang tanpa mereka sadari mengakar kuat dan akhirnya menjadi tradisi. Dan mudik adalah salah satu contohnya, di mana hal itu berlandaskan perintah Nabi untuk saling bersilaturahmi dan berjabat tangan ketika saling bertemu agar diampuni dosanya. Maka mau tidak mau mereka harus bertemu dengan keluarga dan lahirlah tradisi mudik.